Apa yang mereka lakukan sore itu hanyalah mengisi waktu menjelang maghrib. Seharian berada di sekolah fullday membuat mereka baru bisa bersosialisasi di komplek mulai pukul lima sore - moment singkat yang mereka tunggu-tunggu. Adit satu satunya anak laki-laki di antara mereka, mulai berkelakar, mencoba mencairkan suasana.
“Aku tuh si paling cepat lari! bayangin aja, tadi pas pelajaran olahraga, Bu guru sampai muji aku. Katanya lari aku paling kencang di antara semua anak!” Adit bercerita dengan penuh kebanggaan, dadanya membusung, seolah baru saja memenangkan lomba nasional.
“Ah, kau ini, Dit. Minggu lalu main petak umpet aja kalah cepat sama Nina,” Sindir Rina sambil tersenyum. Anak-anak lainnya langsung terkekeh pelan, menahan tawa. Tapi tidak dengan Adit - wajahnya mendadak memerah, matanya melirik ke arah Nina yang pura-pura sibuk mengikat tali sepatunya.
“Kemarin aku memang lagi capek. Kalau kalian mau, ayo kita buktikan lagi! Main petak umpet!" Tantang Adit dengan semangat. Semua langsung mengangguk setuju, kecuali Olla. Wajahnya terlihat terkejut dan ragu dengan ide teman-temannya itu.
“A..Aku tidak mau ikut,” Ucap Olla dengan suara bergetar, menahan rasa takut yang jelas tergambar di matanya.
“Kenapa, Oll?” Nina bertanya, suaranya lembut tapi penuh rasa ingin tahu.
“Teman-teman, sebentar lagi waktu maghrib. Ibuku bilang, waktu maghrib anak-anak harus sudah kembali ke rumah.” Jawab Olla dengan suara pelan dan sedikit gugup.
“Tenang Olla, kita ngga akan lama, setengah jam saja kita bermain,” Kata Adit dengan semangat yang lembut, seperti memberi ruang pada waktu yang berharga tanpa buru-buru. Olla mengangguk pelan, mencoba menenangkan detak jantung yang berlari cepat dari kata-kata.
Dengan bujukan lembut dari teman-temannya, akhirnya Olla menyerah pada ajakan itu. Mereka berjalan menuju belakang mushola, di sana terbentang lapangan yang sedikit luas, selebar lapangan badminton, seolah panggung kecil yang menunggu cerita mereka.
Di ujung lapangan, kebun mangga, pisang dan tanaman temulawak milik Pa Haji berdiri sunyi. Seolah menyimpan lelah yang tak terucap. Batang-batangnya seperti bayang-bayang yang membungkuk dalam keremangan petang. Angin dingin berhembus lewat, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tak kasat mata.
Samping kiri dan kanan terbentang ilalang yang menjulang, melambai-lambai tertiup angin. Disebelah kanan, berdiri makam tionghoa kuno yang tua dan berderti rapi. Kalau kalian membayangkan tempat pemakaman itu penuh aura seram, jangan salah - malam minggu justru ramai oleh muda-mudi yang berpacaran.
Pemukiman warga tak jauh dari sana, hidup dengan segala hiruk pikuknya, seolah makam itu hanyalah sebagian kecil dari dunia yang biasa saja.
Tapi yang justru menyimpan rahasia gelap adalah kebun milik Pak Haji. Di balik hijaunya daun pohon mangga dan pisang, ada yang menunggu dalam sunyinya. Samping kiri lapangan,ilalang memanjang membentang, dan di ujungnya membentang rawa kering yang tampak seperti mulut menganga, siap menelan siapa saja yang mendekat.
Di sanalah kesunyian berubah menjadi bisikan yang membekukan, dan bayangan menari-nari tanpa suara, menunggu langkah-langkah kecil yang tak tahu apa yang akan mengintai.
Mereka sepakat untuk bermain petak umpet, tapi dengan aturan tegas- hanya di halaman depan masjid, tidak boleh masuk ke kebun atau ilalang yang mengintai di sana. Suara setuju bergema pelan. Setelah bersuit, Rina terpilih menjadi penjaga. Tugasnya jelas: mencari tiga anak lainnya yang bersembunyi.
Olla terlihat gelisah. Matanya terus melirik ke arah pepohonan di belakang kebun Pak Haji. Beberapa kali dia melihat seuatu - ada dua sosok kecil, siluet samar anak - anak berambut panjang, berdiri setengah badan mengintip dari balik pohon mangga.
Mereka tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, menatap ke arah lapangan, seolah ingin bermain...atau menunggu.
Wajah mereka tak jelas. Hanya kontur pucat yang menyala samar di antara gelapnya batang pohon dan daun-daun yang bergerak pelan. Olla berkedip dan mereka menghilang.
Jantung Olla berdetak lebih cepat, tapi ia buru-buru mengusir pikirannya sendiri. Mungkin hanya bayangan pohon, batinnya menolak panik. Atau halusinasi karena capek.
Ia tertawa kecil, palsu. Menengok ke arah teman-temannya yang masih sibuk bersembunyi atau saling melempar kode. Seolah semuanya baik-baik saja.
Tapi di sudut matanya, ia tahu—mereka masih di sana. Menunggu. Dan entah kenapa, setiap ia mengabaikannya, sosok itu justru muncul sedikit lebih dekat.
“Olla...kalau takut, tak apa. Kita bisa bersembunyi bersama, kalau kau mau.” Suara Nina pelan, nyaris tenggelam di antara desir angin dan bayang-bayang yang mulai memanjang di tanah.
“Baiklah Nina,” jawab Olla pelan.
Rina berdiri membelakangi tembok belakang masjid, tempat dinding mulai lembab dan catnya mengelupas perlaha, menyisakan guratan waktu yang diam - diam menua.
Ia menarik napas pendek, lalu mulai berhitung.
"1...2...3..."
Suara hitungannya pelan, namun bergema di antara tiupan angin.
"4...5...6..."
Ilalang di sisi lapangan tetap bergoyang meski angin sudah lama berhenti.
Nina, Adit dan Olla langsung bergegas ke depan masjid, langkah-langkah mereka cepat tapi hati-hati mencari tempat sembunyi. Sementara itu Rina menyelesaikan hitungan. Ia melangkah ke depan masjid, yakin teman-temannya bermain sesuai aturan.
Pandangannya langsung tertumbuk pada sesuatu: Sehelai kain sarung mencuat dari balik bedug. Rina mendekat yakin itu Adit. bayangan kain sarung di balik bedug masjid. Dia yakin itu adalah Adit. Hanya dia yang cukup ceroboh untuk sembunyi.
“Dasar bodoh, sejak dulu dia yang selalu gampang ditemukan,” Gerutu Rina dalam hati. Mulutnya membentuk senyum tipis dalam kemenangan.
Ia mengendap-endap, menahan napas, lalu dalam satu gerakan cepat dan mengejutkan, Ia membungkuk ke arah bedug dan berseru.
“Ketemu, Adit!” Rina tertawa, suaranya pecah di udara.
Dari balik bedug, Adit mengangkat kepala sambil cengar - cengir.
“Sial, benar juga. Mungkin karena badanku yang besar, jadi gampang ditemukan,”
Rina menangkap gerakan di samping belakang masjid. instingnya bilang itu Nina atau Olla. Tanpa pikir panjang Ia langsung mengejar. Benar saja, saat sampai di sana, Nina sedang berlari.
“Nina ketemu!” Teriak Rina.
Nina menoleh ke belakang, wajahnya sejenak tampak sedih sebelum melangkah menghampiri Rina dan Adit. Kini tinggal satu yang belum ketemu - Olla, Si Penakut. Rina mengitari masjid sekali lagi, matanya tajam mencari-cari di setiap sudut.
Ketika sampai di jendela masjid, Dia menengadah dan menatap ke dalam. Tak tampak Olla di sana.
“Olla tadi di belakangku,”kata Nina
“Apa dia bersembunyi di luar pagar masjid, ya?” tanya Rina
“Ngga tau, ayo kita ke sana dan kagetkan dia!” Nina memberi ide dengan semangat.
Ketiganya mengendap-endap ke depan pagar masjid. Tapi Olla takada si sana. Seberang masjid, hamparan sawah membentang luas. Mata mereka meyapu ke segala arah, tapi tak satupun bayangan Olla terlihat.
Mereka kembali ke dalam kompleks masjid, suara langkah dan bisik-bisik mulai memenuhi udara, orang-orang sudah berdatangan untuk menunaikan shalat maghrib.
Ketiganya kembali ke halaman belakang. Pandangan mereka menyapu ke sekeliling, tapi tak ada jejak Olla di sana.
Sementara matahari perlahan meredup, bayang-bayang malam mulai merasuk.
“Bagaimana ini?”tanya Rina, cemas mulai menyelinap di suaranya.
“Apa Olla bersembunyi di kebun pa haji, ya?” Adit bertanya, membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
“Tidak mungkin Olla biasanya paling gampang ketemu. Mending Kita sudahi permainan ini dan panggil dia saja,” ucap Nina, mencoba menenangkan suasana.
“Oke!” sahut Rina dan Adit kompak.
Maka, mereka bertiga mulai memanggil Olla dengan suara bergema pelan di halaman belakang masjid. Beberapa orang dari dalam masjid mulai berdatangan, tertarik oleh suara mereka. Seorang pria bertanya dengan ragu.
mereka segera menjelaskan, berharap segera menemukan Olla.
Di tengah keremangan, Rina menatap ke kebun Pa Haji. Matanya menangkap bayangan kecil yang bergerak perlahan di antara pepohonan.
Siluet seorang anak kecil.
“Itu Olla!” Seru Rina sambil menunjuk ke arah kebun
Tanpa pikir panjang, mereka dan dua orang dari masjid segera berlari ke kebun, menyusuri antara pohon mangga dan pisang.
Namun setelah mencari dengan seksama, Olla tak juga ditemukan.
Mereka berhenti di tengah kebun, napas memburu, mata menatap ke segala arah. Angin berhembus pelan, membawa bisikan halus yang sulit dimengerti - seperti suara tawa anak kecil yang samar, tapi penuh kepiluan.
Tiba-tiba, dari balik kerimbunan, terdengar suara langkah kecil yang mendadak terhenti. Mereka menoleh serempak, namun yang tampak hanya bayangan gelap yang segera lenyap di antara pepohonan.
Salah satu pria dari masjid menarik napas panjang, wajahnya berubah pucat.
"Kalian yakin Olla ada di sini?" suaranya bergetar.
Malam semakin pekat, dan ketidakpastian mulai merayap masuk, membalut kebun itu dalam ketakutan yang tak terlihat.