Dealovangga
Minggu, 12 Oktober 2025
Suwung bab 5
Rabu, 08 Oktober 2025
SUWUNG BAB 4
4. Bertemu Panji
Dua jam perjalanan dari Jakarta ke Bali. Hampir sama lamanya dengan perjalanan dari Kuningan Jakarta Selatan ke Cengkareng. Jadi, buatku sama saja seperti duduk di Uber dengan kondisi macetnya Ibu Kota. Bedanya, di Uber Car tidak ada pramugari cantik yang menawarkan air mineral dan snack. Aku menatap ke jendela pesawat, melihat awan-awan bergumpal seperti raksasa yang sedang bermeditasi.
Pesawat mulai menukik. Aku menutup mata, membayangkan perjalanan ini menjadi langkah pertama menuju versi dirinya yang lebih tenang, lebih bijak, dan - siapa tahu - sedikit lebih berhasil.
Sesampainya di Bandara Ngurah rai, udara Bali langsung berbeda. Hangat, lembab, tapi tidak menyesakkan. Ada aroma laut yang samar-samar terbawa angin. Aku menjatuhkan diri di salah satu kursi tunggu, membuka ponsel dan mengetikan: cara ke Ubud dari Bandara.
Informasi yang kutemukan menawarkan dua pilihan - cara cepat dan cara hemat. Cara cepat menggunakan taksi bandara, sewa mobil, atau layanan Grab Gojek langsung dari Bandara - praktis, tapi dompet harus rela sedikit menipis. Cara hemat mengharuskanku menjuju Kuta terlebih dahulu. Lebih lama, tapi waktunya lebih lentur, seolah Bali memang ingin mengajariku untuk tidak tergesa. Setelah mempertimbangkan bahwa aku sedang tidak dikejar deadline apa pun, kupilih cara hemat saja.
Perjalanan lewat Kuta memang lebih effort, tapi itu justru membuatnya menarik. Aku bisa berjalan santai di tepi jalan, menikmati hiruk-pikuk wisatawan, aroma kopi, kue yang menyeruak dari kafe kecil, serta langit bali yang seolah punya gradasi warna tersendiri - antara biru, debu, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi terasa hangat.
***
Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya aku tiba di Ubud - tepatnya di Jalan Goutama, salah satu ruas yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Aku berjalan seperti backpacker yang kehilangan arah, luntang-lantung di antara kafe, galeri, dan papan yoga retreat. Tas carrier besar menggantung di punggung, sementara duffle bag kutenteng di tangan. Sekilas, aku mungkin tampak seperti pencari ketenangan dengan saldo menipis.
Aku duduk di salah satu kafe, setelah beberapa kali kebingungan memilih di mana harus berhenti. Sepanjang jalan ini, semua kafe tampak estetik dan menggoda untuk dimasuki. Akhirnya aku memilih sebuah kafe dengan pastry yang terpajang cantik di etalase, begitu menggugah selera.
Kubuka ponsel, mengetik kata kunci: tempat retreat, wellnes, meditasi, yoga terdekat. Hasilnya membanjiri. Google Maps menampilkan deretan tempat dengan ulasan dan rating bintang.
Aku men-scroll perlahan, mencari lokasi yang semakin menjauh dari hiruk-pikuk dan semakin dekat dengan hutan. Dalam pikiranku, semakin dekat dengan alam, semakin dekat pula dengan ketenangan.
Sampai akhirnya, muncul satu nama: Tirta Semedi. Dari foto-fotonya, tempat itu tampak sejuk dan sederhana. Rating bintang lima, ulasannya hangat - banyak yang menuliskan kesejukan udaranya dan suasana yang menyenangkan. Paketnya pun cukup terjangkau, sesuatu yang terdengar di kalimat yang sama dengan kata retreat.
Kubuka buka aplikasi ojek online dan mengetik nama tempat itu, ternyata hanya lima belas menit dari posisiku sekarang. Tanpa pikir panjang aku berdiri, meraih tas, dan menjuju kasir dan membayar kopi yang tinggal setengah.
***
Di sepanjang perjalanan, jalanan di penuhi umbul-umbul janur yang melambai seperti sedang memberi salam kepada setiap pengendara. Perempuan-perempuan mengenakan kebaya Bali berjalan anggun membawa canang sari di atas kepala - sesembahan khas di Bali disebut banten. Aroma dupa menyeruak di udara, bercampur dengan semilir angin dan rimbunnya pepohonan yang membuat perjalanan terasa seperti masuk ke dunia lain - versi yang lebih wangi dan lebih spiritual dari Google Earth.
Sampailah aku di sebuah tempat dengan banyak bambu kuning yang berjejer di sisi gapura - penjor, kata orang Bali. Gapuranya tampak sederhana tapi sakral, seperti sedang berkata: "Silahkan mauk, tapi tolong copot dulu egomu."
Begitu aku melangkah masuk ke area Tirta Semedi, susananya langsung berubah. Udaranya terasa lebih tenang, suara motor hilang diganti kicau burung dan gemericik air dari pancuran kecil entah asli atau buatan. Beberapa orang bersila di bale-bale bambu, matanya terpejam khusyuk, seperti sedang mengunduh ketenangan.
Aku melangkah menuju sebuah meja yang aku pikir adalah meja resepsionis. Di balik meja itu, seorang perempuan muda berambut cepol, mengenakan pakaian kebaya bali yang di sebut kebaya kemen, menyapaku dengan senyum ramah.
"Selamat datang di Tirta Semedi," Katanya pelan. Tatapannya lalu turun dari wajah ke tas punggungku yang sebesar koper pindahan kos. Seketika senyumnya menegang. Mungkin di pikirannya sedang bertanya-tanya, ini tamu atau pendaki yang nyasar?
"Maaf apa ini tempat meditasi, kan?" Tanyaku sopan.
"Iya," Jawabnya singkat, tapi nadanya berubah satu nada lebih waspada. "Mas-nya ada perlu apa ya?"
"Saya mau ikut kelas meditasi di sini," Kataku mantap, langsung duduk tanpa di persikahkan. Kulihat name tag di dadanya bertuliskan Devi.
"Mas, baru ya? Nih, saya kasih brosurnya dulu." Katanya sambil menyodorkan selebaran berwarna pastel dengan foto-foto orang bermeditasi dalam posisi yang terlihat mustahil nyaman.
Di sana tertera berbagai paket: dari pemula, menengah, hingga mahir. Semuanya lengkap dengan durasi dan, tentu saja, tarif yang membuatku ikut bermeditasi sebentar - menengangkan dompetku sendiri.
"Mba, kalau yang pemula itu yang ini ya?" Tanyaku, menunjuk paket paling murah dan paling pendek durasinya.
"Itu sudah berubah, Mas" Jelas Devi. "Sekarang kelas pemula cuma ada hari Sabtu-Minggu, karena peminatnya banyak. Jadi sekalian dikumpulin biar rame."
Aku mengangguk, sambil dalam hati menghitung hari. Senin sampai Jumat aku ngapain? Mungkin kerja di Bali bisa jadi ide bagus...kalau saja di Ubud ada lowongan IT Support atau bidang IT apa pun.
"Oke, saya ambil yang itu aja, Mbak Devi." Kataku Antusias. Dia sedikit terkejut mendengar namanya kusebut, tapi tetap tersenyum profesional. Setelah pembayaran dan ID card selesai, Devi - yang kemudian menyuruhku cukup panggil Devi saja - mengajakku berkeliling Tirta Semedi.
Ternyata tempanya luas, banyak area terbuka dengan pepohonan, dan suasana hening yang terasa...terlalu hening, sampai aku bisa mendengar suara pikiranku sendiri sedang menyesal tidak makan dulu.
"Ada tempat makan di sekitar sini, nggak?" tanyaku akhirnya.
"Di ujung jalan ke kanan, ada warung nasi khas bali. Murah tapi enak,"jawab Devi
***
Benar saja, di ujung jalan itu berdiri sebuah plang kayu bulat bertuliskan Warung Suwung. Aku berhenti sejenak. "Suwung", pikirku, "Bahasa apa itu ya?" Kuketik di Google - artinya sepi.
Aku tersenyum kecil, cocok, seuasana hening Bali banget, pikirku sambil melangkah masuk. Tapi begitu masuk, kesepianku langsung ditertawakan semesta. Warung Suwung ternyata sama sekali tidak suwung.
Suara piring beradu, sendok jatuh, dan tawa para bule bercampur dengan aroma bawang goreng dan sambal matah. Kalau ini definisi suwung, mungkin artinya "ramai tapi hati tenang".
Tempatnya unik: di halaman sebuah rumah dengan pepohonan rindang, warung kayu sederhana berdiri di bawah naungan daun-daun besar. di setiap meja, asap tipis dari nasi panas perlahan seperti dupa spiritual versi kuliner.
Aku duduk di pojok dan membuka menu. Tulisan tangannya sederhana tapi menggoda:
1. Nasi campur bali - lengkap dengan ayam suwir berbumbu base genap, sate lilit, lawar, telur pindang, dan sambal matah yang bisa membakar dosa masa lalu.
2. Tipat Cantok - mlontong dengan sayur rebus dan saus kacaqng kental, sederhana tapi mebuat hati tentram.
3. Ayam betutu - yang katanya dimasak berjam-jam dengan daun pisang, mungkin karena sang ayam juga butuh waktu untuk mencapai nirwana.
4. dan tentu saja, Es Daluman, hijau lembut dengan santan dan gula merah - manisnya seperti hidup setelah gajian.
Aku memesan nasi campur dan es daluman. Setelah menikmati hidangan, aku beranjak ke meja kasir. Tampak pria seumuranku menyapa dengan ramah.
Di sana, seorang pria seumuranku menyapa dengan ramah. "Selamat sore, Mas." Suaranya tenang, seperti orang yang sudah berdamai dengan hidup - atau mungkin dengan artian pelanggan.
"Meja nomor delapan. Totalnya berapa, Mas?" Tanyaku
"lima puluh lima ribu. Mau bayar pakai Qris atau tunai?" Nada suaranya santai, tapi matanya jeli memantau layar ponselku seperti wasit digital.
"Pakai Qris aja." Aku mengeluarkan ponsel dan men-scan barcode di meja. Ia tersenyum kecil, lalu bertanya, "Mas, mau ke mana, kalau boleh tahu?"
"Saya mau ikut kelas di Tirta Semedi. Tapi baruminggu depan, katanya kelas pemula ada di hari sabtu minggu." Jawabku.
"Oh, cocok tuh," ujarnya. "Tapi Mas nginep di mana selama minggu minggu depan?"
Aku menggeleng. "Nah, itu dia yang belum tahu. Ada saran tempat menginap?"
Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum. "Kebetulan, di belakang warung ini ada kamar kosong. Kalau Mas nggak keberatan tempat sederhana, bisa saya tunjukin. Sekalian biar nggak jauh-jauh cari sarapan."
Aku terdiam sesaat. Ini kebetulan atau semesta yang sedang bekerja lembur? Aku mengangguk, setuju tanpa pikir panjang.
"Oh iya, nama saya Panji," katanya sambil melepas celemeknya. "Tenang aja, Mas. Di ubud ini harga-harga msih manusiaw. Nggak seperti di Denpasar yang sudah tercerahkan dalam urusan tarif."
Kami tertawa kecil. Panji kemudian mengantarku ke belakang warung, melewati lorong kecil dengan tanaman gantung dan suara jangkrik yang mulai muncul. Ruangannya sederhana - ada ranjang kayu, kipas angin, dan jendela yang langsung menghadap pohon pisang.
Sederhana, tapi terasa damai. Mungkin karena di sini, suwung akhirnya benar-benar berarti suwung.
Senin, 06 Oktober 2025
SUWUNG BAB 3: KABUR KE BALI
3 Kabur ke bali
SUWUNG BAB 2
2 Jakarta, Macet dan Bau Kehidupan
Jakarta itu punya dua mode: macet dan macet banget.Opsi kendaraan yang paling cepat ya ojol. Cepat bukan karena mesinnya, tetapi karena abang ojol punya kemampuan nge-nyelip antara celah mobil seperti pertikel debu di ventilasi.
Tapi ya itu, dari kosan wangi, sampai kantor udah jadi campuran parfum "Eu de polusi": ada asap knalpot, bakaran tambal ban, dan sedikit aroma gorengan dari warung depan indomaret. Setiap turun dari ojol aku seperti sate manusia: setengah matang, banyak bumbu asap, tapi harus tetap senyum di kantor seolah semua baik-baik saja.
Lucunya, orang Jakarta menganggap semua itu normal. Kita ngeluh sambil udate instastory: "Macet banget tapi tetap semangat". Padahal dalam hati pengen resign tapi masih butuh duit.
Perjalanan ojol berakhir di depan kantor — gedung 12 lantai dengan AC sentral dan mimpi-mimpi yang sudah dibekukan di dalamnya. Satpam menyapaku ramah, seperti biasa, dengan kalimat favoritnya:
“Telat lagi, Pak Devan?”Aku hanya nyengir.
Jam di dinding menunjukkan pukul 08.57. Tiga menit sebelum waktu absen ditutup. Dalam dunia korporat, tiga menit itu perbedaan antara “pegawai teladan” dan “target sidak HRD.”
Lift berhenti di lantai tujuh, tempat divisiku bekerja IT Support — divisi yang katanya penting tapi nggak pernah disebut dalam rapat direksi. Tugasku sudah 14 tahun di situ: mengerjakan hal yang sama, dengan komputer yang sama, di bawah atasan yang makin muda dan makin sering pakai skincare. Setiap kali ada yang eror, semua orang bilang "Panggil IT!". Padahal masalahnya kadang cuma colokan belum dicolok. Yang lebih parah temenku Rudi, dia sering manggil buat tes jaringan, padahal minta tolong instal game.
Aku menyalakan komputer, sebuah peninggalan arkeologi bernama core i3 generasi pertama, yang butuh doa pembuka, dzikir penutup dan sedikit keberuntungan agar mau menyala. Aku menarik nafas dalam dalaam. Inhale. Exhale. Katanya dari buku mindfulness yang kubaca, teknik ini bisa menurunkan stres.
Kubuka kembali dokumen-dokumen kerjaku, semuanya lengkap: tiket toubleshooting, laporan inventaris aset, sampai dokumen paling sakral di jagat IT support - The Prayer Book, alias prosedur back up dan recovery. Orang awam kira isinya kumpulan doa-doa. Padahal, memang iya - doa agar server tidak mati saat jam kerja.
Kenapa harus lengkap? Karena hari ini ada meeting. Atasanku Dave, punya alergi paling akut terhadap dokumen yang belum "diperbaharui". Bukan karena dia rajin, tapi karena itu satu-satunya cara dia merasa lebih unggul dariku. Dia tidak suka aku terlihat kompeten. Katanya "kerja tim", tapi yang dia maksud "aku kerja, dia tim".
Dave adalah jenis manajer yang tidak paham apa yang sedang terjadi, tetapi selalu tampak sedang memberi TED talk.
Kemarin saja dia bilang, "Kita harus mengadopsi blokchain dan Al-Driven solution untuk helpdesk kita."
Padahal helpdesk kita masih pakai Excel 2010, dan butuh waktu lima menit buat buka satu file karena macro-nya sudah pensiun dini. Kalimatnya terdengar canggih, tapi ujung-ujungnya aku juga yang disuruh "coba googling dulu ya gimana caranya."
Empat belas tahun aku kerja di sini, dan tak pernah kubayangkan bisa bertahan sejauh ini - mungkin karena server room dinginnya seperti surga kecil tempatku merenung setiap kali ingin resign.
Dave jadi manager IT bukan karena kemampuan teknisnya, tetapi karena ada peleburan divisi administrasi dan IT. Dan violla - lahirlah makhluk ambigu: manajer yang bisa bikin surat dinas tapi panik kalau printer minta kertas.
Dave problematik karena hidupnya seperti aplikasi filter: semuanya harus tampak sempurna di permukaan. Dia terobsesi dengan tubuh ideal, rajin ke gym setiap hari, bahkan pernah menyarankan kantor beli dumbbell "biar suasana kerja lebih sehat dan produktif". Padahal yang dia maksud "lebih sehat" adalah "biar bisa pamer otot bisceps saat stand up meeting".
Setiap pagi dia datang ke kantor dengan memakai baju fit tight, sambil membawa tumbler besar bertuliskan "Grind. Glow. Grow." Kadang aku bingung dia ini manajer IT atau motivator fitness start-up.
Dan ditengah obsesi itu, ada satu nama yang sering disebutnya dengan nada lembut dan penuh hormat: Rudi - staf administrasi sekaligus teman cabut ke parkiran kalau suasana kantor mulai menekan. Perawakan rudi gagah, bahu lebar dan otot perut six-pack. Kalau Rudy lewat Dave jadi versi jinak, nada bicaranya turun satu oktaf, senyum naik dua sentimeter.
Aku masuk ke pantry kantor, surga kecil dengan aroma kopi sachet dan suara dispenser galon yang berdendang pelan. Kuambil gelas bertuliskan "Company Property - Do not take home", lalu kuseduh kopi gratis yang rasanya seperti kompromi antara kafein dan kopi hangat.
Rudi sudah di sana menyesap kopi sambil bersandar ke Pantry,
"Lo keliatan kusut, Bro," katanya, menatapku seperti HRD yang baru lihat laporan absensi.
"Kelihatan banget, ya?" Aku melirik bayanganku di cermin kecil di sudut pantry. Wajah lelah dengan mata yang seolah berkata: kenapa aku masih di sini?
"Banget," kata Rudi, "Lo kayaknya kudu healing."
Aku menatapnya dengan tatapan filosofis pegawai yang sudah kehilangan harapan.
“Healing buat budak korporat kayak kita tuh mitos, Rud. Kalau gue cuti, Dave bakal langsung berubah jadi sirene alarm sistem: nyaring dan penuh tuduhan.”
Rudi tertawa kecil. “Beda cerita kalau gue yang ngajuin. Bisa-bisa dia malah ngikut, ‘demi kolaborasi lintas divisi’.”
Kami tertawa — tawa getir dua karyawan yang tahu bahwa humor adalah satu-satunya tunjangan emosional yang tersisa. Setelah itu kami kembali ke kubikel, menyiapkan dokumen rapat sambil pura-pura produktif.
***
Rapat akhirnya dimulai. Kami duduk di sekitar meja ouval - bentuk yang konon melambangkan kesetaraan, tapi entah kenapa tempat duduku selalu paling dekat dengan pintu keluar.
Semakin dekat dengan papan presentasi, semakin tinggi jabatanmu. Dan tentu saja Dave duduk paling dekat dengan CEO - posisi strategis untuk mengangguk penuh semangat setiap kali bos bilang "kita harus lebih inovatif."
Aku duduk di sebelah Rudi, sama sama berusaha tampak serius padahal kami hanya menghitung berapa menit lagi sebelum excel hang ditengah presentasi keuangan.
Satu per satu divisi menyampaikan laporan pertanggungjawaban. Dan tibalah giliran IT.
Dave berdiri, dengan gaya presenter TEDx yang overdosis percaya diri.
"Saya telah memikirkan berbagai terobosan agar operasional tetap lancar," ujarnya sambil menunjuk slide yang aku tahu pasti ada hasil kerja lemburku minggu lalu.
Rapat ditutup dengan pembagian KPI - momen tahunan di mana motivasi kinerja diuji lebih keras dari firewall kantor.
Aku menerima kertas nilainya, dan seperti biasa, skorku rendah. Evaluatornya? Siapa lagi - Dave, sang visioner tanpa visi.
Kecewa? Jelas. Tapi aku tidak kaget. Aku kembali ke kubikel, membuka draft email di folder draft. Sebuah surat pengunduran diri - sudah tida tahun mengendap. Kadang aku pikir, niat resign ini bukan rencana, tapi ritual. Setiap kali KPI turun, aku buka draft itu, baca isinnya, lalu menutupnya lagi.
Kali ini tekadku membara, seperti tentara yang siap terjun ke medan perang - cuma senjataku email resign. Draft surat pengunduran diri itu kubuka lagi, huruf-hurufnya seperti mantra pembebasan: Dear HRD, dengan hormat...
Tanganku mengetik alamat email HRD, dan kupencet send. Layar menampilkan tulisan kecil: message sent. Rasanya heroik...sampai aku sadar, jam sudah lima sore.
Email itu baru akan dibaca besok pagi - tepat saat HRD menyesap kopi dan berkata pelan,
"Tambah satu lagi, target turnover tercapai."
Minggu, 05 Oktober 2025
SUWUNG BAB 1
1. Ulang Tahun Rasa Ayam Bawang
Ku hembuskan irama nafas pelan, entah itu ritme napas normal atau tanda irama menyerah. Tatapan mataku terpaku menatap langit-langit ruangan, berharap menemukan petunjuk atau apa pun yang membuat kegelisahaan di dada ini sedikit mereda. Nampak hanya bekas tempelan bintang-bintang glow in the dark yang sudah mengelupas dan pudar seperti harapan yang terlalu lama dibiarkan menunggu.
Tiga puluh sembilan tahun lewat sepuluh bulan. Angka yang kalau dibulatkan menjadi empat puluh tahun. Dimana Life begins at forty. Terdengar lucu bagiku, hidup dimulai saat para lelaki seusiaku di luar sana pada rentang usia segitu telah sibuk membayar cicilan mobil dan memikirkan biaya sekolah anak. Aku masih berkutat di ruangan berukuran 3 x 4 meter berisi kasur dan satu lemari yang bersaksi tujuh belas tahun ku habiskan waktu di ruangan ini dari awal bekerja di kota ini.
Jadi apa yang mau dimulai? Jodoh? Karir? Kayaknya dua-duanya lagi rehat panjang. Karir mungkin sedikit lebih baik di tempat kerjaku sekarang. Perkara jodoh lagi-lagi menjadi misteri. Keinginan menikah sudah pupus diusia tiga puluh awal. Benar kata orang kalau sudah di atas tiga puluh sudah malas untuk berkenalan dengan pasangan baru.
Sementara karirku, empat belas tahun di perusahaan yang sama, dan jabatanku masih stagnan seperti nasi di magic jar yang lupa dicabut colokannya.
Apa yang salah?Tidak ada. Yang hilang cuma satu: isi hati. Dalam bahasa jawa: Suwung. Kosong tapi berisik.
Aku ini laki-laki berdarah Jawa-Sunda. Katanya dua suku ini tidak cocok bersatu. Tapi orangyuaku buktinya masih awet, mungkin karena sudah malas ribut soal perbedaan logat dan kebiasaan.
Aku bangkit, jalan tiga langkah ke arah dapur - meski menyebutnya dapur agak berlebihan. Lebih tepatnya, meja serbaguna multifungsi yang merangkap kompor listrik, rak piring, dan tempat menaruh galon kosong.
Aku tuang air ke wajan, menyiapkan mie instan. Sebuah ritual sederhana, vesri hemat darifine dining.
Di dunia luar, orang-orang merayakan ulang tahun dengan lilin, kue berlapis krim, dan caption motivasi: "New chapter, new me."
Aku?
Cukup dengan mie instan rasa ayam bawang yang airnya keburu menyusut, jadi asin seperti hidup yang terlalu lama direbus.
Selamat ulang tahun, diriku. Semoga tahun depan bisa naik jabatan...atau minimal, punya galon isi ulang.
Bunyi notifikasi whatsap keluarga berdering bertubi-tubi. Seperti pengingat dosa massal. Grup "Keluarga Besar Cinta Damai" - nama yang ironis, karena isinya sering berantem soal politik - hari ini ramai memberi ucapan:
"Devan! Selamat ulang tahun! Semoga dapat jodoh dan hidayah."
Aku menutup WhatsAp cepat-cepat, sebelum satu lagi ucapan muncul dengan stiker bunga dan doa yang terlalu manis untuk dicerna di pagi hari. Kenapa ya, doa "semoga dapat jodoh" itu terasa seperti hinaan versi religius? Padahal maksudnya baik, tapi di usia tiga puluh enam, rasanya seperti sindiran lembut dari semesta: "Kamu sendirian, Dev. Tapi gapapa, kami semua tahu."
Berkenalan dengan orang baru itu susah. Dunia maya sudah penuh dengan tipu-tipu, dunia nyata sudah penuh orang yang terlanjur nikah. Kalaupun ada yang masih muda, bedanya jauh. Aku sering membayangkan: aku usia tiga puluh enam, calon jodohku masih nete di susu ibunya saat aku lulus SMA. Kalaupun ada yang seumuran...ya paling istri orang. Atau maaf, Janda. Itu pun kalau mau masih ngobrol dengan pria yang dapurnya cuma kompor listrik dan wajan gores.
Lalu soal hidayah. Ah, itu doa yang lucu. Semakin tua aku semakin malas beribadah. Ibadah terakhirku: Sholat idul fitri...tiga tahun lalu. Itu pun karena Ibu maksa, bukan karena panggilan iman.
Bapak beda lagi. Dia percaya pada "agama leluhur" - yang artinya lebih sering meditasi di beranda sambil ngerokok dan menyebut itu sebagai "mencari keseimbangan batin".
jadi ya, anaknya seperti ini.
Campuran antara iman yang redup dan sinyal rohani yang sering lost connection.
Kadang aku mikir, kalau Tuhan buka customer service, mungkin aku udah lama diblokir karena ngga pernah login lagi.
Selasa, 17 September 2024
DINNER
DINNER
Rumor di Desa Karanggetas menjelma jadi headline yang menyalak di mana-mana. Dari obrolan warung kopi, status WhatsApp tetangga, sampai trending topic di TikTok dan Lambe Turah. Dalam hitungan jam, kabar itu meloncat keluar pagar desa, menabrak layar-layar gawai, menelan jarak hingga akhirnya singgah di meja rapat pejabat pusat.
Para pemangku kebijakan—dari lurah sampai menteri—mendadak pasang wajah serius. Dunia pun ikut menoleh, seolah Karanggetas bukan sekadar titik kecil di peta, melainkan panggung tragedi yang ditonton berjuta mata.
Awalnya sederhana, setidaknya begitu kata para ekonom di televisi. Semula bermula dari kenaikan harga minyak dunia, mengakibatkan kenaikan PPN, inflasi merembet, menjalar sampai ke desa-desa. Masyarakat terjepit: pekerjaan makin sulit didapat, dan mereka yang masih bisa bertahan memilih menggenggam uangnya erat-erat, hanya membelanjakan secukupnya untuk kebutuhan pokok.
Kebutuhan pokok pun kini dipilah - pilah. Nasi satu centong dibagi dua kali makan, lauk seadanya, dan kalau bisa sehari sekali makan pun sudah dianggap cukup.
Pemerintah menyebutnya sebagai gaya hidup baru—“frugal living”—istilah asing yang dibungkus manis agar terdengar modern, padahal di lapangan artinya hanyalah lapar yang dijustifikasi. Semua dalih diarahkan ke luar negeri: bencana naiknya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga The Fed, krisis global.
***
Di sebuah rumah reyot yang dindingnya mulai rapuh, tinggal satu keluarga kecil: Ayah, Ibu dan tiga anak. Rinda si sulung yang beranjak remaja; Aifa, anak kedua yang masih polos; dan Alif, bungsu satu-satunya laki-laki.
Hidup mereka sudah lama berjalan di jalur yang sempit dan memprihatinkan. Ayah tak lagi bekerja sejak setahun lalu, paru-parunya rusak, napasnya pendek dan berat seperti ada batu yang menindih dada. Ibu, yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga, dengan berdagang keliling, kini justru terbaring lumpuh.
Malang memang tak bisa ditolak. Rinda si Sulung baru kelas dua sekolah menengah pertama, sudah dipaksa menanggung beban yang bukan miliknya. Ayah terbaring dengan paru-paru yang sekarat, ibu lumpuh di atas tikar, sementara adik-adiknya terlalu kecil untuk mengerti arti lapar. Aifa baru enam tahun, dan Alif—si bungsu—baru bisa mengeja kata “ibu” dengan suara cadel.
Ia bekerja seadanya: mencuci baju tetangga, menyapu halaman, kadang membantu belanja ke pasar. Upahnya tiga puluh ribu rupiah sekali kerja. Kalau beruntung, dalam sehari ia bisa mengerjakan dua sampai tiga rumah.
Namun hari ini, tubuh Rinda tak sekuat biasanya. Kepalanya terasa berat, panas menjalar dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Saat mencuci baju di rumah tetangga, tangannya gemetar, sabun hampir terlepas. Dia meminta ijin pulang lebih cepat. Tetangganya yang iba menyelipkan uang lima puluh ribu ke tangannya - jumlah yang bagi orang lain kecil, tapi bagi Rinda berarti dua hari napas keluarga bisa terjaga.
Lalu bencana itu datang, seperti tamu tak diundang yang membawa kutukan. Panen di desa Karanggetas gagal total. Padi meranggas di sawah, batang-batangnya kering, tak mampu lagi melahirkan bulir beras. Ladang yang biasanya jadi harapan, kini hanya bentangan tanah yang memantulkan keputusasaan.
Gagal panen membuat jalan desa penuh arus baru: anak-anak gadis dan pemuda nekat pergi ke kota, mengadu nasib sebagai buruh, pembantu, atau apa pun yang bisa memberi upah sekadar untuk bertahan hidup. Sementara yang tersisa—para orang tua—tak punya pilihan selain berhutang pada rentenir kota. Hutang itu tumbuh seperti akar liar, mencengkeram, dan pada akhirnya memaksa banyak keluarga menjual sawah warisan.
Rumah-rumah kosong, ladang dijual, dan wajah desa berubah. Tetangga Rinda pun satu per satu meninggalkan tanah mereka, menyerah pada lingkaran hutang.
Kondisi itu berlangsung satu tahun penuh. Waktu terasa panjang dan berat, setiap hari seperti menunggu kiamat kecil yang datang sedikit demi sedikit.
Desa yang dulu tentram dan asri kini menjelma seperti tanah mati. Pohon-pohon layu, jalanan berdebu, dan rumah-rumah kosong berdiri bagai tengkorak, ditinggalkan pemiliknya yang pergi tanpa kepastian pulang. Sunyi desa bukan lagi menenangkan, melainkan menakutkan—seperti jeda panjang sebelum kehancuran berikutnya.
Apa yang terjadi di Karanggetas ternyata bukan sekadar musibah lokal. Ia merambat, menular, menjadi bencana nasional. Pemerintah akhirnya mengumumkan kenyataan pahit: banyak lini usaha ambruk. BUMN dan BUMD—yang dulu dibanggakan—kolaps satu demi satu, menyeret ribuan pekerja ke jurang pengangguran.
Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Semua orang tahu, meski televisi berusaha menutupinya dengan jargon pemulihan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah cemas, antrian panjang di pasar yang makin kosong, dan rasa takut yang tak lagi bisa dibungkam.
“Kak… aku lapar.”
Aifa, adik kedua Rinda, merengek sambil memegang perutnya yang kempis. Matanya basah, suaranya parau seperti anak kecil yang sudah terlalu sering menangis tanpa tenaga.
“Sebentar ya, Fa… Kakak cari dulu apa yang bisa dimakan.”
Namun saat ia menoleh ke dapur, hanya ada beras segenggam di dasar kaleng. Tak cukup untuk mengenyangkan tiga mulut kecil dan dua orang tua yang terbaring sakit. Rinda menggenggam kaleng itu erat-erat, seolah berharap bulir beras bisa bertambah hanya dengan doa.
Rinda terdiam. Sudah lama matanya kering, tak ada lagi air mata yang bisa jatuh. Kesedihan seolah sudah habis entah ke mana. Baginya kini hidup bukan lagi soal bahagia atau sedih—hanya satu hal yang penting: bagaimana caranya mereka bisa makan hari ini.
“Baik, kakak akan ke rumah tetangga. Kalian duduk saja di sini,” ucap Rinda lirih sambil menepuk bahu Aifa pelan. Ia meminta adiknya menjaga Alif, si bungsu, yang sudah terlelap dalam napas pendek-pendek.
Rinda melangkah masuk ke kamar orangtuanya. Di sana, ia mendapati ayah dan ibunya tertidur lelap—atau mungkin hanya terlelap karena kelelahan, bukan karena benar-benar nyenyak. Tubuh mereka bermandikan keringat, napas tersengal dalam udara pengap tanpa kipas.
Rinda melangkah menyusuri jalan. Dulu perjalanan tiga puluh menit ke rumah tetangga seperti melintasi desa yang hidup - suara ayam berkokok, anak-anak berlarian, dan asap dapur mengepul. Kini, jalan itu hanya diisi angin kering yang menggulung debu, rumah - rumah kosong dan ladang yang retak.
Rumah pertama yang ia hampiri adalah rumah Bu Retno. Rinda mengetuk perlahan, lalu terdengar langkah tergesa dari dalam.
Bu Retno muncul dengan wajah tirus, matanya cekung, bibirnya pecah-pecah. "Oh, Rinda..."suaranya serak. Ia tersenyum lemah, tapi senyum itu lebih mirip kelaparan yang menyamar sebagai keramahan.
"Apa...ada sisa makanan, bu?" Rinda berbisik
Bu Retno menghela napas panjang, lalu menunjuk sudut dapurnya yang kosong. "Nak, dua hari ini saya hanya makan ketela. Itu oun sudah habis. Besok mungkin...saya tidak tahu lagi apa yang bisa dimakan."
Rinda terdiam, menatap lantai tanah yang dingin. Harapannya runtuh di depan pintu itu. Di belakangnya, senja mulai merambat, menyeret bayangan panjang seolah mengejek langkahnya yang sia-sia.
Rinda berpamitan dengan langkah gontai. Dari tiga rumah yang ia didatangi, hanya satu yang masih memberikannya sedikit harapan: sebungkus kecil beras, tak lebih dari satu liter. Itu pun disodorkan dengan wajah iba, seolah - olah setiap butirnya adalah emas yang susah dilepas. Baginya, sudah lebih dari cukup , meski Ia tahu, nasi itu hanya akan bertahan sehari.
Tubuh Rinda semakin panas. Keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya pendek-pendek. Setiap langkah terasa seperti menapak di atas bara. Namun, ia menolak tumbang. “Kalau aku jatuh… siapa yang akan jaga Aifa? Siapa yang akan jaga Alif?” batinnya berulang, menahan tubuh yang hampir rubuh.
Ia berbelok, meninggalkan jalan utama menuju kebun di tepi desa. Kebun itu dulu hijau, penuh jagung, bayam, bahkan singkong yang daunnya bisa dipetik kapan saja. Kini yang tersisa hanyalah batang kering, daun-daun yang digerogoti hama, dan tanah yang menganga seperti mulut lapar.
Rinda berjalan dengan mata liar, mencari-cari: sepotong sayuran yang layak, daun singkong muda, atau bahkan rumput liar yang bisa ditumis seadanya. “Apa pun… asal bisa dimakan,” gumamnya lirih.
Namun malang, di kebun itu tidak ada apa-apa. Rinda menelan kekecewaannya, lalu pulang menunduk dengan langkah gontai.
Sesampainya di rumah, Ia segera menyalakan tungku. Segenggam beras yang tadi ia dapatkan dituangkan ke panci, lalu ditambahkan air yang lebih banyak agar cukup untuk mereka bertiga makan. Hasilnya bukann nasi, tapi bubur yang encer dan hambar.
Ketika Ia menghidangkan, Aifa langsung mengerutkan wajah. "Kak...aku ngga mau lagi makan bubur kayak gini!" serunya dengan suara parau bercampur marah.
Alif yang masih kecil hanya menangis, tubuh kurusnya bergertar, matanya cekung, tangannya meraih manguk seperti tahu dirinya lapar tapi terlalu lemah untuk protes.
"Aifa, Alif... sabar ya, ini yang kakak bisa kasih," ucap Rinda sambil menahan getar suaranya. Tangannya gemetar, antara menahan demam di tubuhnya dan luka di hatinya melihat adik-adiknya begitu.
***
“Kak, aku mau makan... ada lauk,” Aifa merengek. Suaranya lirih. Dua hari terakhir tubuh kecilnya panas, wajah pucat, dan matanya sayu.
Alif lebih mengenaskan. Tubuh mungilnya semakin kurus, tulang iga menonjol, kulitnya kering, dan perutnya buncit tanda gizi buruk. Tangisnya pun lemah, lebih mirip keluhan lirih daripada jeritan anak kecil.
Tetangga-tetangga dulu yang bisa diandalkan pun sudah banyak pindah ke kota, entah jadi buruh kasar, entah jadi apa. Rumah-rumah kosong di sekitar mereka hanya menambah kesan desa itu seperti kampung mati.
“Sabar ya...kakak akan menyiapkan makan malam yang enak malam ini. Kakak berjanji.” ucap Rinda pelan sambil mengusap rambut Aifa. Senyum kecil dipaksakan, meski tubuhnya sendiri gemetar dan matanya mulai berkunang-kunang.
Ia berjalan perlahan ke dapur. Lantai tanah yang dingin seakan menelan langkah kakinya. Pandangannya kabur. Matanya kuyu, tubuhnya rapuh, kurus, dan seakan terbakar demam.
Rinda menatap panci kosong di tungku. Hanya ada sisa air yang mengendap, tak cukup bahkan untuk disebut kuah. Di pojok dapur, beras terakhir yang tadi dimasak sudah habis. Tidak ada tempe, tidak ada sayur, tidak ada minyak.
Ia berdiri lama, menatap kekosongan itu. Dadanya sesak, bukan hanya karena sakit di tubuhnya, tapi juga rasa bersalah yang menyesak: janji apa yang bisa ia tepati malam ini?
Dilihat adiknya sudah tertidur, nafas kecil mereka sedikit tersengal membuat Rinda sedikit lega. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan mereka lupa lapar.
Rinda menutup pintu pelan, lalu keluar. Ia berjalan tanpa arah, hanya satu niat dalam hatinya: menemukan sesuatu, apapun itu, yang bisa di makan.
Entah sudah berapa lama ia berjalan, semakin jauh semakin kehilangan arah sampai tidak tahu sudah berapa lama dan seberapa jauh dia berjalan.
***
Di lain waktu dan tempat, layar televisi bersinar di ruang-ruang sempit. Pembawa acara membacakan kabar dengan nada tegas, seolah setiap kata adalah kebenaran.
“Pemerintah sudah menyiapkan program bantuan. Bapa-ibu tenang saja. Kami akan upayakan bagi penduduk di kecamatan Muara Batu ini mendapat bantuan yang layak.”
Ucap pak camat dengan senyum manis. Senyum yang lebih pantas dipajang di baliho dari pada di depan ratusan warga yangduduk beralas sendal jepit.
Beberapa warga mengangguk, bukan karena yakin, tapi karena mereka sudah terlalu lapar untuk membantah. Merka datang dari pelosok, berjalan berjam-jam hanya dengan satu harap: pulang membawa sekilo beras, atau paling tidak segenggam jagung.
Beberapa warga memilih duduk minggir, berlindung di bawah pohon kering. Mereka berharap tak terlalu tersengat panasnya matahari yang menyambar ubun-ubun.
Ada seorang ibu yang menggendong bayinya. Si kecil hanya diam, matanya sayu, kepalanya terkulai. Sang ibu sesekali menggoyang-goyang tubuh mungil itu, bukan agar tertidur, tapi agar terlihat masih hidup.
Di sudut lain, sekelompok bapak berbincang lirih, suara mereka kalah oleh pengeras suara Pak Camat.
“Sudah sepi di desaku pak,” suara seorang lelaki paruh baya terdengar dari barisan belakang. “Malah tetangga desa kami sudah banyak yang pindah ke kota, dijual semua tanah-tanah mereka.”
Pak Camat berhenti sejenak, menatap sekilas ke arah suara itu. Senyumnya sedikit kaku, tetapi mikrofon tetap digenggam erat.
“Iya pak...kita bersabar, ya,” potong pak camat cepat, dengan senyum kaku yang menempel diwajahnya.
“Ada banyak penduduk tua yang tinggal, pak," suara terdengar lagi, kali ini lebih tegas. Seorang lelaki kurus tengah berdiri di tengah kerumunan, wajahnya coklat terbakar matahari. "Mereka sakit-sakitan. Mohon segera dilihat, pak. Saya takut...banyak yang meninggal kelaparan."
“Baik bu, besok kita akan mulai program pembagian sembako,"ujar pak camat sambil tersenyum, nada suaranya kembali ringan. "Banyak juga relawan, orang-orang tenar di Tiktok pun akan datang. Jadi, jangan khawatir, bantuan akan segera tiba."
Pak Camat melangkah turun dari panggung, mendekati perempuan yang tadi berbicara. Senyum diplomatis masih terpasang. "Ibu dari mana?" tanyanya, mencoba ramah di depan kamera wartawan yang merekam dari kejauhan.
banyak juga relawan orang-orang yang tenar di tiktok pun akan datang.” Pak camat tersenyum. “Ibu dari mana?”
“Saya dari Karang Rengas,”jawab lelaki itu pelan, suaranya parau karena haus.
***
“Guys kita lagi di kecamatan Muara," suara perempuan muda itu riang, senyumnya lebar di balik kamera ponselnya. Rambutnya diwarnai pirang pucat, kuku-kukunya berkilau, dan di belakangnya tampak deretan rumah kayu reyot. "Kita mau ke beberapa desa, dan ini desa terakhir - letaknya jauh banget, guys, sumpah, tadi mobil aja nyaris nyangkut di jalan tanah."
“Sepi ya tempatnya,” ujar salah satu influncer yang lain, sambil menurunkan kacamata hitamnya. Udara panas, kering, debu berterbangan. Di kejauhan hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin.
Beberapa polisi yang ikut dalam rombongan tampak berdiri di tepi jalan, bersandar di mobil dinas, Mereka tampak bosan, sebagian merokok, sebagian lagi main handphone.
“Ini daerah terakhir karena kondisi jalan yang lauh dan perumahan sedikit. Di depan ada rumah Bu Retno. Kita akan ke sana.” Ujar pak polisi sambil menunjuk arah jalan setapak yang menurun, tertutup semak.
Mereka berjalan pelan di tanah yang kian menyempit. Diujungnya berdiri sebuah rumah reyot - atap seng berkarat, dinding anyaman bambu yang bolong sana-sini. "Nah, itu rumah Bu Retno," kata polisi sambil menunjuk.
Tok..tok...tok
Pintu kayu berderit saat diketuk. Dari dalam terdengar langkah pelan, disusul suara parau. Seorang nenek membuka pintu. Kulitnya keriput, matanya sayu, rambutnya kusut seperti jerami.
"Iya, saya Retno," katanya pelan
Seketika wajah para influencer berseri. Salah satu dari mereka berbisik pada tim kameranya, "Perpect banget, angle-nya cakep, cahaya natural, dramanya dapet."
Kamera pun mulai merekam.
"Guys, kita lagi nemuin nenek yang tinggal sendirian di ujung dunia," ucap si perempuan berambut pirang sambil menatap lensa. "Lihat rumahnya...astaga, sedih banget. Hastag #NenekSebatangKara #PeduliKemanusiaan, ya, guys!"
Bu Retno hanya diam, memegangi pintu yang setengah roboh.
"Sudah makan, Bu?" tanya salah satu dari mereka, masih dengan kamera yang menyorot wajah renta itu. Beliau menggelengkan kepala. "Dua hari hanya minum air sumur."
"Oh my god!" seru mereka serentak, seperti sedang menyaksikan adegan filem yang menegangkan. Kamera mendekat ke wajah Bu Retno, menangkap setiap keriputnya dengan cahaya sore keemasan.
"Bu, coba lihat sini ya," kata influencer itu. "Biar follower-ku lihat wajah tulus ibu."
Klik
Satu foto diambil, lalu yang lain, dan yang lain lagi.
Mereka kemudian menyerahkan sekotak mie instan, sebotol air mineral, dan beras seperempat kilo. "Semoga bermanfaat ya, bu," ucap mereka serempak.
“Kalian harus ke rumah di ujung jalan ini.” Bu retno menunjuk dengan jari yang gemetar. Batuknya terdengar serak, seperti nafas yang berkarat, "Ada Rinda dan ketiga adiknya...mereka merawat orang tua mereka yang entah masih hidup atau sudah mati.”
Semua yang hadir terdiam.
Angin sore lewat pelan, membawa debu dan suara ranting kering bergesekan.
"Jauh tidak. Bu?" tanya salah satu polisi.
"Jalan kaki...tiga puluh menit, mobil ngga bisa masuk," jawab Bu Retno dengan suara nyaris hilang.
Para influencer saling pandang, Beberapa sudah menurunkan kamera, yang lain melirik jam tangan.
"Jam lima lewat. Udah sore banget," keluh salah satu dari mereka
"Besok aja kali ya? Cahaya udah kurang bagus buat ambil video," sambung yang lain.
Namun ada satu di antara mereka, perempuan berkacamata hitam, yang justru tampak penasaran.
"Enggak. Kita ke sana sekarang. Kalau benar yang dibilang ibu ini, itu konten besar. Bakal viral semalaman."
Polisi menghela napas, lalu memberi isyarat.
"Baik. Tapi cepat. Kita jalan sekarang."
Mereka berangkat, meninggalkan rumah reot itu yang perlahan tenggelam di balik kabut debu.
Mereka pun berjalan menuju rumah yang ditunjuk Bu Retno. Jalan tanah menanjak dan berdebu, melewati kebun singkong yang kering, batangnya pucat seperti tulang. Tak ada burung, tak ada suara jangkrik. Hanya deru napas dan dengus alat perekam yang terus menyala.
Salah satu dari mereka mengeluh, "Gila, jauh banget, ya. Udah setengah jam jalan."
Yang lain menjawab setengah tertawa, "Gapapa, viewers naik terus, Bro. Nih udah dua ribu orang yang nonton live kita."
Lalu di kejauahn terlihat rumah itu. Satu-satunya rumah yang masih berdiri, di tengah ladang kering yang seperti kuburan. Asap tipis keluar dari dapurnya, melayang malas ke udara sore yang mulai mati.
Dan sesuatu pada asap itu - bau yang dibawanya, getir dan anyir - membuat mereka berhenti melangkah hampir bersamaan.
Sampailah di rumah itu, suasana langsung berubah. Menurut Bu Retno, empat hari lalu Rinda sempat datang meminta beras. Itu berarti ini hari kelima keluarga itu tanpa makanan.
Bau busuk menyerang ketika mereka mendekat. Bukan bau sampah, juga bukan bangkai biasa - ini lebih pekat, lebih menyelinap ke dasar tenggorokan. Beberapa influencer spontan menutup hidung, ada yang ingin mundur. Tapi notofikasi komentar terus berdenting.
"Viewers sudah lima ribu," bisik salah satu. Dan langkah mereka terus maju.
Pintu diketuk. Tidak ada jawaban.
Diketuk lagi.
Pda ketukan ketiga, daun pintu bergerak pelan.
Rinda muncul diambang pintu - pucat, rambut gimbal, kulitnya abu-abu oleh debu.
Polisi bertanya lembut, "Kamu baik-baik saja, Nak? Di mana orang tuamu?" Rinda hanya menatap. Pandangannya kosong seperti menembus dunia yang tak lagi ada.
Petugas pemerintah menyodorkan beras. "Ini untuk keluargamu, ya."
Rinda menatap sejenak, lalu bergumam pelan, "Kami sudah makan."
Netizen di live mulai menulis dengan panik:
"Masuk dong lihat ke dalem!"
"Beneran dia sendirian gak?"
"Gila creepy banget."
Dorongan publik seolah punya tenaga sendiri.
Seorang influencer memakasa masuk sambil terus merekam.
Rinda menjerit, "Jangan! Kami sedang makan malam!" Tangannya ditahan polisi.
Ruangan itu remang, diterangi cahaya redup dari dapur. Di meja makan, empat sosok mengelilingi meja: Ayah, Ibu dan dua anak kecil. Mereka tampak diam menunduk. Sekilas pemandangan itu seperti keluarga yang sedang makan malam dengan tenang.
Namun ketika kamera mendekat, semua berhenti bernapas.
Sosok-sosok itu kaku.
Kulit mereka kelabu.
Udara penuh bau busuk kini jelas: bau daging manusia yang membusuk perlahan.
Di meja, semangkuk sop masih mengepulkan asap. Potongan daging merah muda masih tampak di dalamnya.
"Apa ini?" tanya polisi dengan suara bergetar.
Rinda menatap kosong.
"Adikku...ingin makan dengan lauk," ucapnya dengan lirih, hampir seperti doa yang tak selesai.
Seorang influencer melangkah ke dapur. Kamera tetap menyala. Di sana, di sebelah panci besar yang masih mendidih, tampak sesuatu yang tak seharusnya ada: sebuah tangan manusia, pucat, jari-jari kaku terlipat seolah masih menggenggam udara terakhirnya.
Seseorang berteriak.
Dan di antara teriakan itu, hanya rinda yang tetap duduk diam - menatap meja yang kini kosong, seolah di sana masih ada keluarganya yang tersenyum, mengunyah pelan.
Suwung bab 5
5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...
-
1. Ulang Tahun Rasa Ayam Bawang Ku hembuskan irama nafas pelan, entah itu ritme napas normal atau tanda irama menyerah. Tatapan mataku terp...
-
Di suatu komplek perumahan di perbatasan Ibu Kota, segala sesuatu berjalan begitu lambat. Seperti ada jeda waktu dan kehidupan, suara adzan ...
-
5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...
