Selasa, 17 September 2024

DINNER

 

DINNER

Rumor di Desa Karanggetas menjelma jadi headline yang menyalak di mana-mana. Dari obrolan warung kopi, status WhatsApp tetangga, sampai trending topic di TikTok dan Lambe Turah. Dalam hitungan jam, kabar itu meloncat keluar pagar desa, menabrak layar-layar gawai, menelan jarak hingga akhirnya singgah di meja rapat pejabat pusat. 

Para pemangku kebijakan—dari lurah sampai menteri—mendadak pasang wajah serius. Dunia pun ikut menoleh, seolah Karanggetas bukan sekadar titik kecil di peta, melainkan panggung tragedi yang ditonton berjuta mata.

Awalnya sederhana, setidaknya begitu kata para ekonom di televisi. Semula bermula dari kenaikan harga minyak dunia, mengakibatkan kenaikan PPN, inflasi merembet, menjalar sampai ke desa-desa. Masyarakat terjepit: pekerjaan makin sulit didapat, dan mereka yang masih bisa bertahan memilih menggenggam uangnya erat-erat, hanya membelanjakan secukupnya untuk kebutuhan pokok.

Kebutuhan pokok pun kini dipilah - pilah. Nasi satu centong dibagi dua kali makan, lauk seadanya, dan kalau bisa sehari sekali makan pun sudah dianggap cukup. 

Pemerintah menyebutnya sebagai gaya hidup baru—“frugal living”—istilah asing yang dibungkus manis agar terdengar modern, padahal di lapangan artinya hanyalah lapar yang dijustifikasi. Semua dalih diarahkan ke luar negeri: bencana naiknya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga The Fed, krisis global.

***

Di sebuah rumah reyot yang dindingnya mulai rapuh, tinggal satu keluarga kecil: Ayah, Ibu dan tiga anak. Rinda si sulung yang beranjak remaja; Aifa, anak kedua yang masih polos; dan Alif, bungsu satu-satunya laki-laki. 

Hidup mereka sudah lama berjalan di jalur yang sempit dan memprihatinkan. Ayah tak lagi bekerja sejak setahun lalu, paru-parunya rusak, napasnya pendek dan berat seperti ada batu yang menindih dada. Ibu, yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga, dengan berdagang keliling, kini justru terbaring lumpuh.

Malang memang tak bisa ditolak. Rinda si Sulung baru kelas dua sekolah menengah pertama, sudah dipaksa menanggung beban yang bukan miliknya. Ayah terbaring dengan paru-paru yang sekarat, ibu lumpuh di atas tikar, sementara adik-adiknya terlalu kecil untuk mengerti arti lapar. Aifa baru enam tahun, dan Alif—si bungsu—baru bisa mengeja kata “ibu” dengan suara cadel. 

Ia bekerja seadanya: mencuci baju tetangga, menyapu halaman, kadang membantu belanja ke pasar. Upahnya tiga puluh ribu rupiah sekali kerja. Kalau beruntung, dalam sehari ia bisa mengerjakan dua sampai tiga rumah.

Namun hari ini, tubuh Rinda tak sekuat biasanya. Kepalanya terasa berat, panas menjalar dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Saat mencuci baju di rumah tetangga, tangannya gemetar, sabun hampir terlepas. Dia meminta ijin pulang lebih cepat. Tetangganya yang iba menyelipkan uang lima puluh ribu ke tangannya - jumlah yang bagi orang lain kecil, tapi bagi Rinda berarti dua hari napas keluarga bisa terjaga.

Lalu bencana itu datang, seperti tamu tak diundang yang membawa kutukan. Panen di desa Karanggetas gagal total. Padi meranggas di sawah, batang-batangnya kering, tak mampu lagi melahirkan bulir beras. Ladang yang biasanya jadi harapan, kini hanya bentangan tanah yang memantulkan keputusasaan.

Gagal panen membuat jalan desa penuh arus baru: anak-anak gadis dan pemuda nekat pergi ke kota, mengadu nasib sebagai buruh, pembantu, atau apa pun yang bisa memberi upah sekadar untuk bertahan hidup. Sementara yang tersisa—para orang tua—tak punya pilihan selain berhutang pada rentenir kota. Hutang itu tumbuh seperti akar liar, mencengkeram, dan pada akhirnya memaksa banyak keluarga menjual sawah warisan.

Rumah-rumah kosong, ladang dijual, dan wajah desa berubah. Tetangga Rinda pun satu per satu meninggalkan tanah mereka, menyerah pada lingkaran hutang.

Kondisi itu berlangsung satu tahun penuh. Waktu terasa panjang dan berat, setiap hari seperti menunggu kiamat kecil yang datang sedikit demi sedikit.

Desa yang dulu tentram dan asri kini menjelma seperti tanah mati. Pohon-pohon layu, jalanan berdebu, dan rumah-rumah kosong berdiri bagai tengkorak, ditinggalkan pemiliknya yang pergi tanpa kepastian pulang. Sunyi desa bukan lagi menenangkan, melainkan menakutkan—seperti jeda panjang sebelum kehancuran berikutnya.

Apa yang terjadi di Karanggetas ternyata bukan sekadar musibah lokal. Ia merambat, menular, menjadi bencana nasional. Pemerintah akhirnya mengumumkan kenyataan pahit: banyak lini usaha ambruk. BUMN dan BUMD—yang dulu dibanggakan—kolaps satu demi satu, menyeret ribuan pekerja ke jurang pengangguran.

Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Semua orang tahu, meski televisi berusaha menutupinya dengan jargon pemulihan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah cemas, antrian panjang di pasar yang makin kosong, dan rasa takut yang tak lagi bisa dibungkam.

“Kak… aku lapar.”
Aifa, adik kedua Rinda, merengek sambil memegang perutnya yang kempis. Matanya basah, suaranya parau seperti anak kecil yang sudah terlalu sering menangis tanpa tenaga.

“Sebentar ya, Fa… Kakak cari dulu apa yang bisa dimakan.”

Namun saat ia menoleh ke dapur, hanya ada beras segenggam di dasar kaleng. Tak cukup untuk mengenyangkan tiga mulut kecil dan dua orang tua yang terbaring sakit. Rinda menggenggam kaleng itu erat-erat, seolah berharap bulir beras bisa bertambah hanya dengan doa.

Rinda terdiam. Sudah lama matanya kering, tak ada lagi air mata yang bisa jatuh. Kesedihan seolah sudah habis entah ke mana. Baginya kini hidup bukan lagi soal bahagia atau sedih—hanya satu hal yang penting: bagaimana caranya mereka bisa makan hari ini.

“Baik, kakak akan ke rumah tetangga. Kalian duduk saja di sini,” ucap Rinda lirih sambil menepuk bahu Aifa pelan. Ia meminta adiknya menjaga Alif, si bungsu, yang sudah terlelap dalam napas pendek-pendek.

Rinda melangkah masuk ke kamar orangtuanya. Di sana, ia mendapati ayah dan ibunya tertidur lelap—atau mungkin hanya terlelap karena kelelahan, bukan karena benar-benar nyenyak. Tubuh mereka bermandikan keringat, napas tersengal dalam udara pengap tanpa kipas.

Rinda melangkah menyusuri jalan. Dulu perjalanan tiga puluh menit ke rumah tetangga seperti melintasi desa yang hidup - suara ayam berkokok, anak-anak berlarian, dan asap dapur mengepul. Kini, jalan itu hanya diisi angin kering  yang menggulung debu, rumah - rumah kosong dan ladang yang retak.

Rumah pertama yang  ia hampiri adalah rumah Bu Retno. Rinda mengetuk perlahan, lalu terdengar langkah tergesa dari dalam. 

Bu Retno muncul dengan wajah tirus, matanya cekung, bibirnya pecah-pecah. "Oh, Rinda..."suaranya serak. Ia tersenyum lemah, tapi senyum itu lebih mirip kelaparan yang menyamar sebagai keramahan.

"Apa...ada sisa makanan, bu?" Rinda berbisik

Bu Retno menghela napas panjang, lalu menunjuk sudut dapurnya yang kosong. "Nak, dua hari ini saya hanya makan ketela.  Itu oun sudah habis. Besok mungkin...saya tidak tahu lagi apa yang bisa dimakan."

Rinda terdiam, menatap lantai tanah yang dingin. Harapannya runtuh di depan pintu itu. Di belakangnya, senja mulai merambat, menyeret bayangan panjang seolah mengejek langkahnya yang sia-sia.

Rinda berpamitan dengan langkah gontai. Dari tiga rumah yang ia didatangi, hanya satu yang masih memberikannya sedikit harapan: sebungkus kecil beras, tak lebih dari satu liter. Itu pun disodorkan dengan wajah iba, seolah - olah setiap butirnya adalah emas yang susah dilepas.  Baginya, sudah lebih dari cukup , meski Ia tahu,  nasi itu hanya akan bertahan sehari.

Tubuh Rinda semakin panas. Keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya pendek-pendek. Setiap langkah terasa seperti menapak di atas bara. Namun, ia menolak tumbang. “Kalau aku jatuh… siapa yang akan jaga Aifa? Siapa yang akan jaga Alif?” batinnya berulang, menahan tubuh yang hampir rubuh.

Ia berbelok, meninggalkan jalan utama menuju kebun di tepi desa. Kebun itu dulu hijau, penuh jagung, bayam, bahkan singkong yang daunnya bisa dipetik kapan saja. Kini yang tersisa hanyalah batang kering, daun-daun yang digerogoti hama, dan tanah yang menganga seperti mulut lapar.

Rinda berjalan dengan mata liar, mencari-cari: sepotong sayuran yang layak, daun singkong muda, atau bahkan rumput liar yang bisa ditumis seadanya. “Apa pun… asal bisa dimakan,” gumamnya lirih.

Namun malang,  di kebun itu tidak ada apa-apa. Rinda menelan kekecewaannya, lalu pulang menunduk dengan langkah gontai. 

Sesampainya di rumah, Ia segera menyalakan tungku. Segenggam beras yang tadi ia dapatkan dituangkan ke panci, lalu ditambahkan air yang lebih banyak agar cukup untuk mereka bertiga makan. Hasilnya bukann nasi, tapi bubur yang encer dan hambar.

Ketika Ia menghidangkan, Aifa langsung mengerutkan wajah. "Kak...aku ngga mau lagi makan bubur kayak gini!" serunya dengan suara parau bercampur marah.

Alif yang masih kecil hanya menangis, tubuh kurusnya bergertar, matanya cekung, tangannya meraih manguk seperti tahu dirinya lapar tapi terlalu lemah untuk protes.

"Aifa, Alif... sabar ya, ini yang kakak bisa kasih," ucap Rinda sambil menahan getar suaranya. Tangannya gemetar, antara menahan demam di tubuhnya dan luka di hatinya melihat adik-adiknya begitu.

***

“Kak, aku mau makan... ada lauk,” Aifa merengek. Suaranya lirih. Dua hari terakhir tubuh kecilnya panas, wajah pucat, dan matanya sayu.

Alif lebih mengenaskan. Tubuh mungilnya semakin kurus, tulang iga menonjol, kulitnya kering, dan perutnya buncit tanda gizi buruk. Tangisnya pun lemah, lebih mirip keluhan lirih daripada jeritan anak kecil.

Tetangga-tetangga dulu yang bisa diandalkan pun sudah banyak pindah ke kota, entah jadi buruh kasar, entah jadi apa. Rumah-rumah kosong di sekitar mereka hanya menambah kesan desa itu seperti kampung mati.

“Sabar ya...kakak akan menyiapkan makan malam yang enak malam ini. Kakak berjanji.” ucap Rinda pelan sambil mengusap rambut Aifa. Senyum kecil dipaksakan, meski tubuhnya sendiri gemetar dan matanya mulai berkunang-kunang. 

Ia berjalan perlahan ke dapur. Lantai tanah yang dingin seakan menelan langkah kakinya. Pandangannya kabur. Matanya kuyu, tubuhnya rapuh, kurus, dan seakan terbakar demam.

Rinda menatap panci kosong di tungku. Hanya ada sisa air yang mengendap, tak cukup bahkan untuk disebut kuah. Di pojok dapur, beras terakhir yang tadi dimasak sudah habis. Tidak ada tempe, tidak ada sayur, tidak ada minyak.

Ia berdiri lama, menatap kekosongan itu. Dadanya sesak, bukan hanya karena sakit di tubuhnya, tapi juga rasa bersalah yang menyesak: janji apa yang bisa ia tepati malam ini?

Dilihat adiknya sudah tertidur, nafas kecil mereka sedikit tersengal membuat Rinda sedikit lega. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan mereka lupa lapar.

Rinda menutup pintu pelan, lalu keluar. Ia berjalan tanpa arah, hanya satu niat dalam hatinya: menemukan sesuatu, apapun itu, yang bisa di makan.

Entah sudah berapa lama ia berjalan, semakin jauh semakin kehilangan arah sampai tidak tahu sudah berapa lama dan seberapa jauh dia berjalan.

***

Di lain waktu dan tempat, layar televisi bersinar di ruang-ruang sempit. Pembawa acara membacakan kabar dengan nada tegas, seolah setiap kata adalah kebenaran.

“Pemerintah sudah menyiapkan program bantuan. Bapa-ibu tenang saja. Kami akan upayakan bagi penduduk di kecamatan Muara Batu ini mendapat bantuan yang layak.” 

Ucap pak camat dengan senyum manis. Senyum yang lebih pantas dipajang di baliho dari pada di depan ratusan warga yangduduk beralas sendal jepit. 

Beberapa warga mengangguk, bukan karena yakin, tapi karena mereka sudah terlalu lapar untuk membantah. Merka datang dari pelosok, berjalan berjam-jam hanya dengan satu harap: pulang membawa sekilo beras, atau paling tidak segenggam jagung.

Beberapa warga memilih duduk minggir, berlindung di bawah pohon kering. Mereka berharap tak terlalu tersengat panasnya matahari yang menyambar ubun-ubun. 

Ada seorang ibu yang menggendong bayinya. Si kecil hanya diam, matanya sayu, kepalanya terkulai. Sang ibu sesekali menggoyang-goyang tubuh mungil itu, bukan agar tertidur, tapi agar terlihat masih hidup.

Di sudut lain, sekelompok bapak berbincang lirih, suara mereka kalah oleh pengeras suara Pak Camat.

“Sudah sepi di desaku pak,” suara seorang lelaki paruh baya terdengar dari barisan belakang. “Malah tetangga desa kami sudah banyak yang pindah ke kota, dijual semua tanah-tanah mereka.”

Pak Camat berhenti sejenak, menatap sekilas ke arah suara itu. Senyumnya sedikit kaku, tetapi mikrofon tetap digenggam erat.

“Iya pak...kita bersabar, ya,” potong pak camat cepat,  dengan senyum kaku yang menempel diwajahnya.

“Ada banyak penduduk tua yang tinggal, pak," suara terdengar lagi, kali ini lebih tegas. Seorang lelaki kurus tengah berdiri di tengah kerumunan, wajahnya coklat terbakar matahari. "Mereka sakit-sakitan. Mohon segera dilihat, pak. Saya takut...banyak yang meninggal kelaparan." 

 “Baik bu, besok kita akan mulai program pembagian sembako,"ujar pak camat sambil tersenyum, nada suaranya kembali ringan. "Banyak juga relawan, orang-orang tenar di Tiktok pun akan datang. Jadi, jangan khawatir, bantuan akan segera tiba."

Pak Camat melangkah turun dari panggung, mendekati perempuan yang tadi berbicara. Senyum diplomatis masih terpasang. "Ibu dari mana?" tanyanya, mencoba ramah di depan kamera wartawan yang merekam dari kejauhan.

 banyak juga relawan orang-orang yang tenar di tiktok pun akan datang.” Pak camat tersenyum. “Ibu dari mana?”

“Saya dari Karang Rengas,”jawab lelaki itu pelan, suaranya parau karena haus.

***

“Guys kita lagi di kecamatan Muara," suara perempuan muda itu riang, senyumnya lebar di balik kamera ponselnya. Rambutnya diwarnai pirang pucat, kuku-kukunya berkilau, dan di belakangnya tampak deretan rumah kayu reyot. "Kita mau ke beberapa desa, dan ini desa terakhir - letaknya jauh banget, guys, sumpah, tadi mobil aja nyaris nyangkut di jalan tanah."

“Sepi ya tempatnya,” ujar salah satu influncer yang lain, sambil menurunkan kacamata hitamnya. Udara panas, kering, debu berterbangan. Di kejauhan hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin. 

Beberapa polisi yang ikut dalam rombongan tampak berdiri di tepi jalan, bersandar di mobil dinas, Mereka tampak bosan, sebagian merokok, sebagian lagi main handphone.

“Ini daerah terakhir karena kondisi jalan yang lauh dan perumahan sedikit. Di depan ada rumah Bu Retno. Kita akan ke sana.” Ujar pak polisi sambil menunjuk arah jalan setapak yang menurun, tertutup semak.

Mereka berjalan pelan di tanah yang kian menyempit. Diujungnya berdiri sebuah rumah reyot - atap seng berkarat, dinding anyaman bambu yang bolong sana-sini. "Nah, itu rumah Bu Retno," kata polisi sambil menunjuk.

Tok..tok...tok

Pintu kayu berderit saat diketuk. Dari dalam terdengar langkah pelan, disusul suara parau. Seorang nenek membuka pintu. Kulitnya keriput, matanya sayu, rambutnya kusut seperti jerami.

"Iya, saya Retno," katanya pelan

Seketika wajah para influencer berseri. Salah satu dari mereka berbisik pada tim kameranya, "Perpect banget, angle-nya cakep, cahaya natural, dramanya dapet."

Kamera pun mulai merekam.

"Guys, kita lagi nemuin nenek yang tinggal sendirian di ujung dunia," ucap si perempuan berambut pirang sambil menatap lensa. "Lihat rumahnya...astaga, sedih banget. Hastag #NenekSebatangKara #PeduliKemanusiaan, ya, guys!"

Bu Retno hanya diam, memegangi pintu yang setengah roboh.

"Sudah makan, Bu?" tanya salah satu dari mereka, masih dengan kamera yang menyorot wajah renta itu. Beliau menggelengkan kepala. "Dua hari hanya minum air sumur."

"Oh my god!" seru mereka serentak, seperti sedang menyaksikan adegan filem yang menegangkan.  Kamera mendekat ke wajah Bu Retno, menangkap setiap keriputnya dengan cahaya sore keemasan.

"Bu, coba lihat sini ya," kata influencer itu. "Biar follower-ku lihat wajah tulus ibu."

Klik

Satu foto diambil, lalu yang lain, dan yang lain lagi.

Mereka kemudian menyerahkan sekotak mie instan, sebotol air mineral, dan beras seperempat kilo. "Semoga bermanfaat ya, bu," ucap mereka serempak.

“Kalian harus ke rumah di ujung jalan ini.” Bu retno menunjuk dengan jari yang gemetar. Batuknya terdengar serak, seperti nafas yang berkarat, "Ada Rinda dan ketiga adiknya...mereka merawat orang tua mereka yang entah masih hidup atau sudah mati.” 

Semua yang hadir terdiam. 

Angin sore lewat pelan, membawa debu dan suara ranting kering bergesekan.

"Jauh tidak. Bu?" tanya salah satu polisi.

"Jalan kaki...tiga puluh menit, mobil ngga bisa masuk," jawab Bu Retno dengan suara nyaris hilang. 

Para influencer saling pandang, Beberapa sudah menurunkan kamera, yang lain melirik jam tangan.

"Jam lima lewat. Udah sore banget," keluh salah satu dari mereka

"Besok aja kali ya? Cahaya udah kurang bagus buat ambil video," sambung yang lain.

Namun ada satu di antara mereka, perempuan berkacamata hitam, yang justru tampak penasaran.

"Enggak. Kita ke sana sekarang. Kalau benar yang dibilang ibu ini, itu konten besar. Bakal viral semalaman."

Polisi menghela napas, lalu memberi isyarat.

"Baik. Tapi cepat. Kita jalan sekarang."

Mereka berangkat, meninggalkan rumah reot itu yang perlahan tenggelam di balik kabut debu.

Mereka pun berjalan menuju rumah yang ditunjuk Bu Retno. Jalan tanah menanjak dan berdebu, melewati kebun singkong yang kering, batangnya pucat seperti tulang. Tak ada burung, tak ada suara jangkrik. Hanya deru napas dan dengus alat perekam yang terus menyala.

Salah satu dari mereka mengeluh, "Gila, jauh banget, ya. Udah setengah jam jalan."

Yang lain menjawab setengah tertawa, "Gapapa, viewers naik terus, Bro. Nih udah dua ribu orang yang nonton live kita." 

Lalu di kejauahn terlihat rumah itu. Satu-satunya rumah yang masih berdiri, di tengah ladang kering yang seperti kuburan. Asap tipis keluar dari dapurnya, melayang malas ke udara sore yang mulai mati.

Dan sesuatu pada asap itu -  bau yang dibawanya, getir dan anyir - membuat mereka berhenti melangkah hampir bersamaan.

Sampailah di rumah itu, suasana langsung berubah. Menurut Bu Retno, empat hari lalu Rinda sempat datang meminta beras. Itu berarti ini hari kelima keluarga itu tanpa makanan.

Bau busuk menyerang ketika mereka mendekat. Bukan bau sampah, juga bukan bangkai biasa - ini lebih pekat, lebih menyelinap ke dasar tenggorokan. Beberapa influencer spontan menutup hidung, ada yang ingin mundur.  Tapi notofikasi komentar terus berdenting.

"Viewers sudah lima ribu," bisik salah satu. Dan langkah mereka terus maju.

Pintu diketuk. Tidak ada jawaban.

Diketuk lagi.

Pda ketukan ketiga, daun pintu bergerak pelan.

Rinda muncul diambang pintu - pucat, rambut gimbal, kulitnya abu-abu oleh debu. 

Polisi bertanya lembut, "Kamu baik-baik saja, Nak? Di mana orang tuamu?" Rinda hanya menatap. Pandangannya kosong seperti menembus dunia yang tak lagi ada.

Petugas pemerintah menyodorkan beras. "Ini untuk keluargamu, ya."

Rinda menatap sejenak, lalu bergumam pelan, "Kami sudah makan."

Netizen di live mulai menulis dengan panik:

"Masuk dong lihat ke dalem!"

"Beneran dia sendirian gak?"

"Gila creepy banget."

Dorongan publik seolah punya tenaga sendiri.

Seorang influencer memakasa masuk sambil terus merekam. 

Rinda menjerit, "Jangan! Kami sedang makan malam!" Tangannya ditahan polisi.

Ruangan itu remang, diterangi cahaya redup dari dapur. Di meja makan, empat sosok mengelilingi meja: Ayah, Ibu dan dua anak kecil. Mereka tampak diam menunduk. Sekilas pemandangan itu seperti keluarga yang sedang makan malam dengan tenang.

Namun ketika kamera mendekat, semua berhenti bernapas.

Sosok-sosok itu kaku.

Kulit mereka kelabu.

Udara penuh bau busuk kini jelas: bau daging manusia yang membusuk perlahan.

Di meja, semangkuk sop masih mengepulkan asap. Potongan daging merah muda masih tampak di dalamnya. 

"Apa ini?" tanya polisi dengan suara bergetar.

Rinda menatap kosong.

"Adikku...ingin makan dengan lauk," ucapnya dengan lirih, hampir seperti doa yang tak selesai.

Seorang influencer melangkah ke dapur. Kamera tetap menyala. Di sana, di sebelah panci besar yang masih mendidih, tampak sesuatu yang tak seharusnya ada: sebuah tangan manusia, pucat, jari-jari kaku terlipat seolah masih menggenggam udara terakhirnya.

Seseorang berteriak.

Dan di antara teriakan itu, hanya rinda yang tetap duduk diam -  menatap meja yang kini kosong, seolah di sana masih ada keluarganya yang tersenyum, mengunyah pelan. 


Selasa, 10 September 2024

orang gila

 

ORANG GILA

“Orang gila... orang gila...”

“Orang gila...orang gil....”

“Lariiii.........”

Aku terbangun. Suara anak-anak di depan rumah menusuk ketenangan tidur siangku. Hari ini aku libur dan rencanaku cuma satu: tidur, membiarkan waktu bergerak perlahan di rumah sewaan ini, di pinggir ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Aku terbangun di lantai dua, merenggangkan tubuh sambil melongok ke jendela. Anak-anak komplek ini yang sedang membuat kekacauan kecil, mentertawakan dan mengejek seorang ibu yang memakai baju compang camping, lusuh dan rambut gimbal sebahu. 

Satu pertanyaan mengganjal di kepala: bagaimana mungkin orang seperti itu bisa lolos dari pengawasan satpam perumahan?

Aku menutup jendela, membiarkan suara  anak-anak yang kurang sopan itu mengalir pergi begitu saja. Mencoba memejamkan mata kembali, tapi sadar - sekali terjaga, tidur itu tidak lagi ramah padaku.

Aku meraih smartphone, scroll tanpa tujuan jelas, mencari-cari informasi tentang perumahan ini. Semua tampak normal - jalan beton, rumah berjajar rapi, pepohonan kering di trotoar. 

Suara anak-anak mereda. Sepi. Harusnya ketenangan datang, tapi justru rasa penasaran menggerogoti. Aku bangun dari tempat tidur, melangkah perlahan ke jendela.

Dan dia masih ada. Ibu itu berdiri, menataplurus ke arahku. Jantungku mendadak berpacu. Baru beberapa menit lalu Ia tersenyum - senyum yang membuat darahku membeku. Refleks, aku mundur, mencari perlindungan di balik jendela.

Ketika aku berani menengok kembali, ibu itu telah hilang dari pandangan. Seolah tidak pernah menatap dan tersenyum kepadaku.


Aku mencoba meyakinkan diri: mungkin itu hanya imajinasiku. Ketika kulongok lagi ke arah luar jendela, ibu itu sudah lenyap. Hilang begitu cepat, seakan ditelan oleh bayangan. 

Pikiran lain segera muncul - apakah pintu rumah sudah terkunci? apa mungkin dia bisa masuk? Rasa takut mencekam, meski aku tahu itu terdengar konyol.

Entahlah. Mungkin karena terlalu sering menonton film horor dan thriller, aku jadi mudah parno. Tapi di kota pinggiran ini, di rumah sewaan yang sunyi, paranoia terasa wajar. Karena ketika bayangan bergerak tanpa suara, dan mata yang menatap muncul lalu hilang, akal sehat mulai goyah, dan bahkan udara pun terasa penuh ancaman.

Segera aku membuka pintu kamar dan menuruni tangga, langkahku cepat tapi hati-hati. Sampai di pintu depan, tanganku menekan gagang—terkunci. Napasku panjang, lega yang pahit merayap di dada. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang terjadi.

Aku berdiri di sana, termenung. Betapa seharusnya siang ini aku hanya berleha-leha di atas kasur, membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat dari target-target penjualan yang menekan di kantor. Namun, kenyataannya? Tidur siangku terganggu, digoyang oleh bayangan, ketakutan, dan rasa penasaran yang tak diundang.

Di kota yang terlihat tenang, bahkan satu jam istirahat bisa berubah menjadi medan perang kecil antara ketenangan dan paranoia. Dan aku, hanya manusia biasa, menjadi pion dari imajinasi sendiri—atau mungkin sesuatu yang nyata, menunggu di luar sana.

Tiba-tiba ada bayangan sekelebat dari dapur. Aku gemetar. Dengan langkah hati-hati aku maju sedikit -  jaraknya tidak terlalu jauh. Aku siap menjerit jika benar ada orang jahat yang masuk ke rumah ini. Bahkan aku berlari sedikit, inginn mengejutkannya sebelum sempat dia mengejutkanku. 

Namun, tak ada siapapun. Tidak ada sosok di dapur. Tapi keyakinanku bahwa tadi ada seseorang yang melintas tidak hilang. Suasana semakin mencekam, udara seakan menebal dan menekan dada. 

Aku teringat - rumah ini punya CCTV. Alasanku membayar lebih mahal di banding tempat lain adalah karena rumah ini terpasang CCTVyang terintegrasi dengan handphone. Aku membuka aplikasi, menatap layar, berharap melihat sesuatu yang logis—orang asing, pencuri, atau setidaknya bayangan yang nyata. Tapi layar tetap hitam, rekaman menunjukkan ruang yang kosong.

Dengan hati-hati, aku kembali ke tempat tidur dan duduk di atas kasur. Layar handphone menampilkan sudut-sudut rumah—ruang tamu, dapur, koridor. Aku mulai memutar ulang rekaman, menyesuaikan waktu agar bisa melihat apa yang sempat membuatku terkejut.

Setiap frame bergerak lambat di mataku, tapi tidak ada yang bergerak di sana—tidak ada bayangan, tidak ada sosok. Hanya kursi, meja, lantai kayu yang sunyi.

Hasilnya tidak ada yang aneh. Ada beberapa sudut depan rumah aman, belakang rumah pun aman. Aku coba beralih ke samping-samping rumah pun aman. Aku bernafas lega tidak ada yang aneh dengan rumah ini. Malah aku bersyukur dengan cctv yang banyak ini.

Aku teringat satu kamera cctv yang terpasang di atas jendela kamar, menghadap langsung ke jalan. Aku membuka folder rekamannya dan memutar kejadian 30 menit yang lalu. 

Di tampak layar anak-anak komplek, berteriak dan berlarian, meledek seorang ibu yang mereka panggil sebagai "orang gila".

Rasa penasaran menggerogoti - benarkah ibu tadi menatapku dan tersenyum, atau itu hanya imajinasiku? Aku mempercepat video CCTV, menahan nafas. Tidak ada tanda senyum ke arah jendela kamar. Ia hanya menunduk, diam. 

Aku memutar ulang sekali lagi, mempercepat rekaman, berharap menangkap sesuatu yang terlewat. Tetapi hasilnya tetap sama. Dia tidak menatap ke atas, tidak tersenyum, hanya menunduk.

Tubuhku bersandar ke dinding, menatap langit-langit kamar. Apa yang sebenarnya ku lakukan? Benar-benar minggu yang menyebalkan.

Aku memejamkan mata sebentar, tapi suara bergeser dari bawah ranjang membuat darahku serasa berhenti sejenak. Ada bau busuk yang menusuk hidung. 

Ranjang ini tipe king, 180 cm x 200 cm, cukup tinggi sehingga suka aku jadikan tempat penyimpanan buku dan beberapa dus sepatu. Dengan malas, aku meunduk, mencoba mengintip ke bagian bawah ranjang. 

Betapa terkejutnya aku. Napasku tercekat, ingin menjerit, tapi sesuatu menahan suaraku. Bau busuk menyeruak, tangan kotor mencengkeram leherku begitu cepat—seolah waktu melambat hanya untuk momen itu.

Aku ingin menjerit, ingin melawan, tapi sulit. Semua gerakanku terasa terhenti.

Orang gila itu meringis. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada niat membunuh. Tapi kekuatan yang ia miliki membuatku tak bisa bergerak. Ibu itu—ya, ibu itu—memegang leherku dengan pegangan yang tak bisa dijelaskan, keras tapi bukan untuk mencekikku.

Detik-detik itu terasa panjang, hening, hanya aku dan sosoknya, serta kekuatan yang mengalir tanpa kata. Di antara rasa takut dan ketegangan, aku menyadari satu hal: ada sesuatu di mata ibu itu, sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kemarahan atau kebencian—sebuah rahasia, atau pesan yang belum bisa aku mengerti.

Suwung bab 5

5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...