1. Ulang Tahun Rasa Ayam Bawang
Ku hembuskan irama nafas pelan, entah itu ritme napas normal atau tanda irama menyerah. Tatapan mataku terpaku menatap langit-langit ruangan, berharap menemukan petunjuk atau apa pun yang membuat kegelisahaan di dada ini sedikit mereda. Nampak hanya bekas tempelan bintang-bintang glow in the dark yang sudah mengelupas dan pudar seperti harapan yang terlalu lama dibiarkan menunggu.
Tiga puluh sembilan tahun lewat sepuluh bulan. Angka yang kalau dibulatkan menjadi empat puluh tahun. Dimana Life begins at forty. Terdengar lucu bagiku, hidup dimulai saat para lelaki seusiaku di luar sana pada rentang usia segitu telah sibuk membayar cicilan mobil dan memikirkan biaya sekolah anak. Aku masih berkutat di ruangan berukuran 3 x 4 meter berisi kasur dan satu lemari yang bersaksi tujuh belas tahun ku habiskan waktu di ruangan ini dari awal bekerja di kota ini.
Jadi apa yang mau dimulai? Jodoh? Karir? Kayaknya dua-duanya lagi rehat panjang. Karir mungkin sedikit lebih baik di tempat kerjaku sekarang. Perkara jodoh lagi-lagi menjadi misteri. Keinginan menikah sudah pupus diusia tiga puluh awal. Benar kata orang kalau sudah di atas tiga puluh sudah malas untuk berkenalan dengan pasangan baru.
Sementara karirku, empat belas tahun di perusahaan yang sama, dan jabatanku masih stagnan seperti nasi di magic jar yang lupa dicabut colokannya.
Apa yang salah?Tidak ada. Yang hilang cuma satu: isi hati. Dalam bahasa jawa: Suwung. Kosong tapi berisik.
Aku ini laki-laki berdarah Jawa-Sunda. Katanya dua suku ini tidak cocok bersatu. Tapi orangyuaku buktinya masih awet, mungkin karena sudah malas ribut soal perbedaan logat dan kebiasaan.
Aku bangkit, jalan tiga langkah ke arah dapur - meski menyebutnya dapur agak berlebihan. Lebih tepatnya, meja serbaguna multifungsi yang merangkap kompor listrik, rak piring, dan tempat menaruh galon kosong.
Aku tuang air ke wajan, menyiapkan mie instan. Sebuah ritual sederhana, vesri hemat darifine dining.
Di dunia luar, orang-orang merayakan ulang tahun dengan lilin, kue berlapis krim, dan caption motivasi: "New chapter, new me."
Aku?
Cukup dengan mie instan rasa ayam bawang yang airnya keburu menyusut, jadi asin seperti hidup yang terlalu lama direbus.
Selamat ulang tahun, diriku. Semoga tahun depan bisa naik jabatan...atau minimal, punya galon isi ulang.
Bunyi notifikasi whatsap keluarga berdering bertubi-tubi. Seperti pengingat dosa massal. Grup "Keluarga Besar Cinta Damai" - nama yang ironis, karena isinya sering berantem soal politik - hari ini ramai memberi ucapan:
"Devan! Selamat ulang tahun! Semoga dapat jodoh dan hidayah."
Aku menutup WhatsAp cepat-cepat, sebelum satu lagi ucapan muncul dengan stiker bunga dan doa yang terlalu manis untuk dicerna di pagi hari. Kenapa ya, doa "semoga dapat jodoh" itu terasa seperti hinaan versi religius? Padahal maksudnya baik, tapi di usia tiga puluh enam, rasanya seperti sindiran lembut dari semesta: "Kamu sendirian, Dev. Tapi gapapa, kami semua tahu."
Berkenalan dengan orang baru itu susah. Dunia maya sudah penuh dengan tipu-tipu, dunia nyata sudah penuh orang yang terlanjur nikah. Kalaupun ada yang masih muda, bedanya jauh. Aku sering membayangkan: aku usia tiga puluh enam, calon jodohku masih nete di susu ibunya saat aku lulus SMA. Kalaupun ada yang seumuran...ya paling istri orang. Atau maaf, Janda. Itu pun kalau mau masih ngobrol dengan pria yang dapurnya cuma kompor listrik dan wajan gores.
Lalu soal hidayah. Ah, itu doa yang lucu. Semakin tua aku semakin malas beribadah. Ibadah terakhirku: Sholat idul fitri...tiga tahun lalu. Itu pun karena Ibu maksa, bukan karena panggilan iman.
Bapak beda lagi. Dia percaya pada "agama leluhur" - yang artinya lebih sering meditasi di beranda sambil ngerokok dan menyebut itu sebagai "mencari keseimbangan batin".
jadi ya, anaknya seperti ini.
Campuran antara iman yang redup dan sinyal rohani yang sering lost connection.
Kadang aku mikir, kalau Tuhan buka customer service, mungkin aku udah lama diblokir karena ngga pernah login lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar