Minggu, 12 Oktober 2025
Suwung bab 5
Rabu, 08 Oktober 2025
SUWUNG BAB 4
4. Bertemu Panji
Dua jam perjalanan dari Jakarta ke Bali. Hampir sama lamanya dengan perjalanan dari Kuningan Jakarta Selatan ke Cengkareng. Jadi, buatku sama saja seperti duduk di Uber dengan kondisi macetnya Ibu Kota. Bedanya, di Uber Car tidak ada pramugari cantik yang menawarkan air mineral dan snack. Aku menatap ke jendela pesawat, melihat awan-awan bergumpal seperti raksasa yang sedang bermeditasi.
Pesawat mulai menukik. Aku menutup mata, membayangkan perjalanan ini menjadi langkah pertama menuju versi dirinya yang lebih tenang, lebih bijak, dan - siapa tahu - sedikit lebih berhasil.
Sesampainya di Bandara Ngurah rai, udara Bali langsung berbeda. Hangat, lembab, tapi tidak menyesakkan. Ada aroma laut yang samar-samar terbawa angin. Aku menjatuhkan diri di salah satu kursi tunggu, membuka ponsel dan mengetikan: cara ke Ubud dari Bandara.
Informasi yang kutemukan menawarkan dua pilihan - cara cepat dan cara hemat. Cara cepat menggunakan taksi bandara, sewa mobil, atau layanan Grab Gojek langsung dari Bandara - praktis, tapi dompet harus rela sedikit menipis. Cara hemat mengharuskanku menjuju Kuta terlebih dahulu. Lebih lama, tapi waktunya lebih lentur, seolah Bali memang ingin mengajariku untuk tidak tergesa. Setelah mempertimbangkan bahwa aku sedang tidak dikejar deadline apa pun, kupilih cara hemat saja.
Perjalanan lewat Kuta memang lebih effort, tapi itu justru membuatnya menarik. Aku bisa berjalan santai di tepi jalan, menikmati hiruk-pikuk wisatawan, aroma kopi, kue yang menyeruak dari kafe kecil, serta langit bali yang seolah punya gradasi warna tersendiri - antara biru, debu, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi terasa hangat.
***
Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya aku tiba di Ubud - tepatnya di Jalan Goutama, salah satu ruas yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Aku berjalan seperti backpacker yang kehilangan arah, luntang-lantung di antara kafe, galeri, dan papan yoga retreat. Tas carrier besar menggantung di punggung, sementara duffle bag kutenteng di tangan. Sekilas, aku mungkin tampak seperti pencari ketenangan dengan saldo menipis.
Aku duduk di salah satu kafe, setelah beberapa kali kebingungan memilih di mana harus berhenti. Sepanjang jalan ini, semua kafe tampak estetik dan menggoda untuk dimasuki. Akhirnya aku memilih sebuah kafe dengan pastry yang terpajang cantik di etalase, begitu menggugah selera.
Kubuka ponsel, mengetik kata kunci: tempat retreat, wellnes, meditasi, yoga terdekat. Hasilnya membanjiri. Google Maps menampilkan deretan tempat dengan ulasan dan rating bintang.
Aku men-scroll perlahan, mencari lokasi yang semakin menjauh dari hiruk-pikuk dan semakin dekat dengan hutan. Dalam pikiranku, semakin dekat dengan alam, semakin dekat pula dengan ketenangan.
Sampai akhirnya, muncul satu nama: Tirta Semedi. Dari foto-fotonya, tempat itu tampak sejuk dan sederhana. Rating bintang lima, ulasannya hangat - banyak yang menuliskan kesejukan udaranya dan suasana yang menyenangkan. Paketnya pun cukup terjangkau, sesuatu yang terdengar di kalimat yang sama dengan kata retreat.
Kubuka buka aplikasi ojek online dan mengetik nama tempat itu, ternyata hanya lima belas menit dari posisiku sekarang. Tanpa pikir panjang aku berdiri, meraih tas, dan menjuju kasir dan membayar kopi yang tinggal setengah.
***
Di sepanjang perjalanan, jalanan di penuhi umbul-umbul janur yang melambai seperti sedang memberi salam kepada setiap pengendara. Perempuan-perempuan mengenakan kebaya Bali berjalan anggun membawa canang sari di atas kepala - sesembahan khas di Bali disebut banten. Aroma dupa menyeruak di udara, bercampur dengan semilir angin dan rimbunnya pepohonan yang membuat perjalanan terasa seperti masuk ke dunia lain - versi yang lebih wangi dan lebih spiritual dari Google Earth.
Sampailah aku di sebuah tempat dengan banyak bambu kuning yang berjejer di sisi gapura - penjor, kata orang Bali. Gapuranya tampak sederhana tapi sakral, seperti sedang berkata: "Silahkan mauk, tapi tolong copot dulu egomu."
Begitu aku melangkah masuk ke area Tirta Semedi, susananya langsung berubah. Udaranya terasa lebih tenang, suara motor hilang diganti kicau burung dan gemericik air dari pancuran kecil entah asli atau buatan. Beberapa orang bersila di bale-bale bambu, matanya terpejam khusyuk, seperti sedang mengunduh ketenangan.
Aku melangkah menuju sebuah meja yang aku pikir adalah meja resepsionis. Di balik meja itu, seorang perempuan muda berambut cepol, mengenakan pakaian kebaya bali yang di sebut kebaya kemen, menyapaku dengan senyum ramah.
"Selamat datang di Tirta Semedi," Katanya pelan. Tatapannya lalu turun dari wajah ke tas punggungku yang sebesar koper pindahan kos. Seketika senyumnya menegang. Mungkin di pikirannya sedang bertanya-tanya, ini tamu atau pendaki yang nyasar?
"Maaf apa ini tempat meditasi, kan?" Tanyaku sopan.
"Iya," Jawabnya singkat, tapi nadanya berubah satu nada lebih waspada. "Mas-nya ada perlu apa ya?"
"Saya mau ikut kelas meditasi di sini," Kataku mantap, langsung duduk tanpa di persikahkan. Kulihat name tag di dadanya bertuliskan Devi.
"Mas, baru ya? Nih, saya kasih brosurnya dulu." Katanya sambil menyodorkan selebaran berwarna pastel dengan foto-foto orang bermeditasi dalam posisi yang terlihat mustahil nyaman.
Di sana tertera berbagai paket: dari pemula, menengah, hingga mahir. Semuanya lengkap dengan durasi dan, tentu saja, tarif yang membuatku ikut bermeditasi sebentar - menengangkan dompetku sendiri.
"Mba, kalau yang pemula itu yang ini ya?" Tanyaku, menunjuk paket paling murah dan paling pendek durasinya.
"Itu sudah berubah, Mas" Jelas Devi. "Sekarang kelas pemula cuma ada hari Sabtu-Minggu, karena peminatnya banyak. Jadi sekalian dikumpulin biar rame."
Aku mengangguk, sambil dalam hati menghitung hari. Senin sampai Jumat aku ngapain? Mungkin kerja di Bali bisa jadi ide bagus...kalau saja di Ubud ada lowongan IT Support atau bidang IT apa pun.
"Oke, saya ambil yang itu aja, Mbak Devi." Kataku Antusias. Dia sedikit terkejut mendengar namanya kusebut, tapi tetap tersenyum profesional. Setelah pembayaran dan ID card selesai, Devi - yang kemudian menyuruhku cukup panggil Devi saja - mengajakku berkeliling Tirta Semedi.
Ternyata tempanya luas, banyak area terbuka dengan pepohonan, dan suasana hening yang terasa...terlalu hening, sampai aku bisa mendengar suara pikiranku sendiri sedang menyesal tidak makan dulu.
"Ada tempat makan di sekitar sini, nggak?" tanyaku akhirnya.
"Di ujung jalan ke kanan, ada warung nasi khas bali. Murah tapi enak,"jawab Devi
***
Benar saja, di ujung jalan itu berdiri sebuah plang kayu bulat bertuliskan Warung Suwung. Aku berhenti sejenak. "Suwung", pikirku, "Bahasa apa itu ya?" Kuketik di Google - artinya sepi.
Aku tersenyum kecil, cocok, seuasana hening Bali banget, pikirku sambil melangkah masuk. Tapi begitu masuk, kesepianku langsung ditertawakan semesta. Warung Suwung ternyata sama sekali tidak suwung.
Suara piring beradu, sendok jatuh, dan tawa para bule bercampur dengan aroma bawang goreng dan sambal matah. Kalau ini definisi suwung, mungkin artinya "ramai tapi hati tenang".
Tempatnya unik: di halaman sebuah rumah dengan pepohonan rindang, warung kayu sederhana berdiri di bawah naungan daun-daun besar. di setiap meja, asap tipis dari nasi panas perlahan seperti dupa spiritual versi kuliner.
Aku duduk di pojok dan membuka menu. Tulisan tangannya sederhana tapi menggoda:
1. Nasi campur bali - lengkap dengan ayam suwir berbumbu base genap, sate lilit, lawar, telur pindang, dan sambal matah yang bisa membakar dosa masa lalu.
2. Tipat Cantok - mlontong dengan sayur rebus dan saus kacaqng kental, sederhana tapi mebuat hati tentram.
3. Ayam betutu - yang katanya dimasak berjam-jam dengan daun pisang, mungkin karena sang ayam juga butuh waktu untuk mencapai nirwana.
4. dan tentu saja, Es Daluman, hijau lembut dengan santan dan gula merah - manisnya seperti hidup setelah gajian.
Aku memesan nasi campur dan es daluman. Setelah menikmati hidangan, aku beranjak ke meja kasir. Tampak pria seumuranku menyapa dengan ramah.
Di sana, seorang pria seumuranku menyapa dengan ramah. "Selamat sore, Mas." Suaranya tenang, seperti orang yang sudah berdamai dengan hidup - atau mungkin dengan artian pelanggan.
"Meja nomor delapan. Totalnya berapa, Mas?" Tanyaku
"lima puluh lima ribu. Mau bayar pakai Qris atau tunai?" Nada suaranya santai, tapi matanya jeli memantau layar ponselku seperti wasit digital.
"Pakai Qris aja." Aku mengeluarkan ponsel dan men-scan barcode di meja. Ia tersenyum kecil, lalu bertanya, "Mas, mau ke mana, kalau boleh tahu?"
"Saya mau ikut kelas di Tirta Semedi. Tapi baruminggu depan, katanya kelas pemula ada di hari sabtu minggu." Jawabku.
"Oh, cocok tuh," ujarnya. "Tapi Mas nginep di mana selama minggu minggu depan?"
Aku menggeleng. "Nah, itu dia yang belum tahu. Ada saran tempat menginap?"
Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum. "Kebetulan, di belakang warung ini ada kamar kosong. Kalau Mas nggak keberatan tempat sederhana, bisa saya tunjukin. Sekalian biar nggak jauh-jauh cari sarapan."
Aku terdiam sesaat. Ini kebetulan atau semesta yang sedang bekerja lembur? Aku mengangguk, setuju tanpa pikir panjang.
"Oh iya, nama saya Panji," katanya sambil melepas celemeknya. "Tenang aja, Mas. Di ubud ini harga-harga msih manusiaw. Nggak seperti di Denpasar yang sudah tercerahkan dalam urusan tarif."
Kami tertawa kecil. Panji kemudian mengantarku ke belakang warung, melewati lorong kecil dengan tanaman gantung dan suara jangkrik yang mulai muncul. Ruangannya sederhana - ada ranjang kayu, kipas angin, dan jendela yang langsung menghadap pohon pisang.
Sederhana, tapi terasa damai. Mungkin karena di sini, suwung akhirnya benar-benar berarti suwung.
Senin, 06 Oktober 2025
SUWUNG BAB 3: KABUR KE BALI
3 Kabur ke bali
SUWUNG BAB 2
2 Jakarta, Macet dan Bau Kehidupan
Jakarta itu punya dua mode: macet dan macet banget.Opsi kendaraan yang paling cepat ya ojol. Cepat bukan karena mesinnya, tetapi karena abang ojol punya kemampuan nge-nyelip antara celah mobil seperti pertikel debu di ventilasi.
Tapi ya itu, dari kosan wangi, sampai kantor udah jadi campuran parfum "Eu de polusi": ada asap knalpot, bakaran tambal ban, dan sedikit aroma gorengan dari warung depan indomaret. Setiap turun dari ojol aku seperti sate manusia: setengah matang, banyak bumbu asap, tapi harus tetap senyum di kantor seolah semua baik-baik saja.
Lucunya, orang Jakarta menganggap semua itu normal. Kita ngeluh sambil udate instastory: "Macet banget tapi tetap semangat". Padahal dalam hati pengen resign tapi masih butuh duit.
Perjalanan ojol berakhir di depan kantor — gedung 12 lantai dengan AC sentral dan mimpi-mimpi yang sudah dibekukan di dalamnya. Satpam menyapaku ramah, seperti biasa, dengan kalimat favoritnya:
“Telat lagi, Pak Devan?”Aku hanya nyengir.
Jam di dinding menunjukkan pukul 08.57. Tiga menit sebelum waktu absen ditutup. Dalam dunia korporat, tiga menit itu perbedaan antara “pegawai teladan” dan “target sidak HRD.”
Lift berhenti di lantai tujuh, tempat divisiku bekerja IT Support — divisi yang katanya penting tapi nggak pernah disebut dalam rapat direksi. Tugasku sudah 14 tahun di situ: mengerjakan hal yang sama, dengan komputer yang sama, di bawah atasan yang makin muda dan makin sering pakai skincare. Setiap kali ada yang eror, semua orang bilang "Panggil IT!". Padahal masalahnya kadang cuma colokan belum dicolok. Yang lebih parah temenku Rudi, dia sering manggil buat tes jaringan, padahal minta tolong instal game.
Aku menyalakan komputer, sebuah peninggalan arkeologi bernama core i3 generasi pertama, yang butuh doa pembuka, dzikir penutup dan sedikit keberuntungan agar mau menyala. Aku menarik nafas dalam dalaam. Inhale. Exhale. Katanya dari buku mindfulness yang kubaca, teknik ini bisa menurunkan stres.
Kubuka kembali dokumen-dokumen kerjaku, semuanya lengkap: tiket toubleshooting, laporan inventaris aset, sampai dokumen paling sakral di jagat IT support - The Prayer Book, alias prosedur back up dan recovery. Orang awam kira isinya kumpulan doa-doa. Padahal, memang iya - doa agar server tidak mati saat jam kerja.
Kenapa harus lengkap? Karena hari ini ada meeting. Atasanku Dave, punya alergi paling akut terhadap dokumen yang belum "diperbaharui". Bukan karena dia rajin, tapi karena itu satu-satunya cara dia merasa lebih unggul dariku. Dia tidak suka aku terlihat kompeten. Katanya "kerja tim", tapi yang dia maksud "aku kerja, dia tim".
Dave adalah jenis manajer yang tidak paham apa yang sedang terjadi, tetapi selalu tampak sedang memberi TED talk.
Kemarin saja dia bilang, "Kita harus mengadopsi blokchain dan Al-Driven solution untuk helpdesk kita."
Padahal helpdesk kita masih pakai Excel 2010, dan butuh waktu lima menit buat buka satu file karena macro-nya sudah pensiun dini. Kalimatnya terdengar canggih, tapi ujung-ujungnya aku juga yang disuruh "coba googling dulu ya gimana caranya."
Empat belas tahun aku kerja di sini, dan tak pernah kubayangkan bisa bertahan sejauh ini - mungkin karena server room dinginnya seperti surga kecil tempatku merenung setiap kali ingin resign.
Dave jadi manager IT bukan karena kemampuan teknisnya, tetapi karena ada peleburan divisi administrasi dan IT. Dan violla - lahirlah makhluk ambigu: manajer yang bisa bikin surat dinas tapi panik kalau printer minta kertas.
Dave problematik karena hidupnya seperti aplikasi filter: semuanya harus tampak sempurna di permukaan. Dia terobsesi dengan tubuh ideal, rajin ke gym setiap hari, bahkan pernah menyarankan kantor beli dumbbell "biar suasana kerja lebih sehat dan produktif". Padahal yang dia maksud "lebih sehat" adalah "biar bisa pamer otot bisceps saat stand up meeting".
Setiap pagi dia datang ke kantor dengan memakai baju fit tight, sambil membawa tumbler besar bertuliskan "Grind. Glow. Grow." Kadang aku bingung dia ini manajer IT atau motivator fitness start-up.
Dan ditengah obsesi itu, ada satu nama yang sering disebutnya dengan nada lembut dan penuh hormat: Rudi - staf administrasi sekaligus teman cabut ke parkiran kalau suasana kantor mulai menekan. Perawakan rudi gagah, bahu lebar dan otot perut six-pack. Kalau Rudy lewat Dave jadi versi jinak, nada bicaranya turun satu oktaf, senyum naik dua sentimeter.
Aku masuk ke pantry kantor, surga kecil dengan aroma kopi sachet dan suara dispenser galon yang berdendang pelan. Kuambil gelas bertuliskan "Company Property - Do not take home", lalu kuseduh kopi gratis yang rasanya seperti kompromi antara kafein dan kopi hangat.
Rudi sudah di sana menyesap kopi sambil bersandar ke Pantry,
"Lo keliatan kusut, Bro," katanya, menatapku seperti HRD yang baru lihat laporan absensi.
"Kelihatan banget, ya?" Aku melirik bayanganku di cermin kecil di sudut pantry. Wajah lelah dengan mata yang seolah berkata: kenapa aku masih di sini?
"Banget," kata Rudi, "Lo kayaknya kudu healing."
Aku menatapnya dengan tatapan filosofis pegawai yang sudah kehilangan harapan.
“Healing buat budak korporat kayak kita tuh mitos, Rud. Kalau gue cuti, Dave bakal langsung berubah jadi sirene alarm sistem: nyaring dan penuh tuduhan.”
Rudi tertawa kecil. “Beda cerita kalau gue yang ngajuin. Bisa-bisa dia malah ngikut, ‘demi kolaborasi lintas divisi’.”
Kami tertawa — tawa getir dua karyawan yang tahu bahwa humor adalah satu-satunya tunjangan emosional yang tersisa. Setelah itu kami kembali ke kubikel, menyiapkan dokumen rapat sambil pura-pura produktif.
***
Rapat akhirnya dimulai. Kami duduk di sekitar meja ouval - bentuk yang konon melambangkan kesetaraan, tapi entah kenapa tempat duduku selalu paling dekat dengan pintu keluar.
Semakin dekat dengan papan presentasi, semakin tinggi jabatanmu. Dan tentu saja Dave duduk paling dekat dengan CEO - posisi strategis untuk mengangguk penuh semangat setiap kali bos bilang "kita harus lebih inovatif."
Aku duduk di sebelah Rudi, sama sama berusaha tampak serius padahal kami hanya menghitung berapa menit lagi sebelum excel hang ditengah presentasi keuangan.
Satu per satu divisi menyampaikan laporan pertanggungjawaban. Dan tibalah giliran IT.
Dave berdiri, dengan gaya presenter TEDx yang overdosis percaya diri.
"Saya telah memikirkan berbagai terobosan agar operasional tetap lancar," ujarnya sambil menunjuk slide yang aku tahu pasti ada hasil kerja lemburku minggu lalu.
Rapat ditutup dengan pembagian KPI - momen tahunan di mana motivasi kinerja diuji lebih keras dari firewall kantor.
Aku menerima kertas nilainya, dan seperti biasa, skorku rendah. Evaluatornya? Siapa lagi - Dave, sang visioner tanpa visi.
Kecewa? Jelas. Tapi aku tidak kaget. Aku kembali ke kubikel, membuka draft email di folder draft. Sebuah surat pengunduran diri - sudah tida tahun mengendap. Kadang aku pikir, niat resign ini bukan rencana, tapi ritual. Setiap kali KPI turun, aku buka draft itu, baca isinnya, lalu menutupnya lagi.
Kali ini tekadku membara, seperti tentara yang siap terjun ke medan perang - cuma senjataku email resign. Draft surat pengunduran diri itu kubuka lagi, huruf-hurufnya seperti mantra pembebasan: Dear HRD, dengan hormat...
Tanganku mengetik alamat email HRD, dan kupencet send. Layar menampilkan tulisan kecil: message sent. Rasanya heroik...sampai aku sadar, jam sudah lima sore.
Email itu baru akan dibaca besok pagi - tepat saat HRD menyesap kopi dan berkata pelan,
"Tambah satu lagi, target turnover tercapai."
Minggu, 05 Oktober 2025
SUWUNG BAB 1
1. Ulang Tahun Rasa Ayam Bawang
Ku hembuskan irama nafas pelan, entah itu ritme napas normal atau tanda irama menyerah. Tatapan mataku terpaku menatap langit-langit ruangan, berharap menemukan petunjuk atau apa pun yang membuat kegelisahaan di dada ini sedikit mereda. Nampak hanya bekas tempelan bintang-bintang glow in the dark yang sudah mengelupas dan pudar seperti harapan yang terlalu lama dibiarkan menunggu.
Tiga puluh sembilan tahun lewat sepuluh bulan. Angka yang kalau dibulatkan menjadi empat puluh tahun. Dimana Life begins at forty. Terdengar lucu bagiku, hidup dimulai saat para lelaki seusiaku di luar sana pada rentang usia segitu telah sibuk membayar cicilan mobil dan memikirkan biaya sekolah anak. Aku masih berkutat di ruangan berukuran 3 x 4 meter berisi kasur dan satu lemari yang bersaksi tujuh belas tahun ku habiskan waktu di ruangan ini dari awal bekerja di kota ini.
Jadi apa yang mau dimulai? Jodoh? Karir? Kayaknya dua-duanya lagi rehat panjang. Karir mungkin sedikit lebih baik di tempat kerjaku sekarang. Perkara jodoh lagi-lagi menjadi misteri. Keinginan menikah sudah pupus diusia tiga puluh awal. Benar kata orang kalau sudah di atas tiga puluh sudah malas untuk berkenalan dengan pasangan baru.
Sementara karirku, empat belas tahun di perusahaan yang sama, dan jabatanku masih stagnan seperti nasi di magic jar yang lupa dicabut colokannya.
Apa yang salah?Tidak ada. Yang hilang cuma satu: isi hati. Dalam bahasa jawa: Suwung. Kosong tapi berisik.
Aku ini laki-laki berdarah Jawa-Sunda. Katanya dua suku ini tidak cocok bersatu. Tapi orangyuaku buktinya masih awet, mungkin karena sudah malas ribut soal perbedaan logat dan kebiasaan.
Aku bangkit, jalan tiga langkah ke arah dapur - meski menyebutnya dapur agak berlebihan. Lebih tepatnya, meja serbaguna multifungsi yang merangkap kompor listrik, rak piring, dan tempat menaruh galon kosong.
Aku tuang air ke wajan, menyiapkan mie instan. Sebuah ritual sederhana, vesri hemat darifine dining.
Di dunia luar, orang-orang merayakan ulang tahun dengan lilin, kue berlapis krim, dan caption motivasi: "New chapter, new me."
Aku?
Cukup dengan mie instan rasa ayam bawang yang airnya keburu menyusut, jadi asin seperti hidup yang terlalu lama direbus.
Selamat ulang tahun, diriku. Semoga tahun depan bisa naik jabatan...atau minimal, punya galon isi ulang.
Bunyi notifikasi whatsap keluarga berdering bertubi-tubi. Seperti pengingat dosa massal. Grup "Keluarga Besar Cinta Damai" - nama yang ironis, karena isinya sering berantem soal politik - hari ini ramai memberi ucapan:
"Devan! Selamat ulang tahun! Semoga dapat jodoh dan hidayah."
Aku menutup WhatsAp cepat-cepat, sebelum satu lagi ucapan muncul dengan stiker bunga dan doa yang terlalu manis untuk dicerna di pagi hari. Kenapa ya, doa "semoga dapat jodoh" itu terasa seperti hinaan versi religius? Padahal maksudnya baik, tapi di usia tiga puluh enam, rasanya seperti sindiran lembut dari semesta: "Kamu sendirian, Dev. Tapi gapapa, kami semua tahu."
Berkenalan dengan orang baru itu susah. Dunia maya sudah penuh dengan tipu-tipu, dunia nyata sudah penuh orang yang terlanjur nikah. Kalaupun ada yang masih muda, bedanya jauh. Aku sering membayangkan: aku usia tiga puluh enam, calon jodohku masih nete di susu ibunya saat aku lulus SMA. Kalaupun ada yang seumuran...ya paling istri orang. Atau maaf, Janda. Itu pun kalau mau masih ngobrol dengan pria yang dapurnya cuma kompor listrik dan wajan gores.
Lalu soal hidayah. Ah, itu doa yang lucu. Semakin tua aku semakin malas beribadah. Ibadah terakhirku: Sholat idul fitri...tiga tahun lalu. Itu pun karena Ibu maksa, bukan karena panggilan iman.
Bapak beda lagi. Dia percaya pada "agama leluhur" - yang artinya lebih sering meditasi di beranda sambil ngerokok dan menyebut itu sebagai "mencari keseimbangan batin".
jadi ya, anaknya seperti ini.
Campuran antara iman yang redup dan sinyal rohani yang sering lost connection.
Kadang aku mikir, kalau Tuhan buka customer service, mungkin aku udah lama diblokir karena ngga pernah login lagi.
Suwung bab 5
5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...
-
1. Ulang Tahun Rasa Ayam Bawang Ku hembuskan irama nafas pelan, entah itu ritme napas normal atau tanda irama menyerah. Tatapan mataku terp...
-
Di suatu komplek perumahan di perbatasan Ibu Kota, segala sesuatu berjalan begitu lambat. Seperti ada jeda waktu dan kehidupan, suara adzan ...
-
5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...
