Senin, 06 Oktober 2025

SUWUNG BAB 3: KABUR KE BALI


3 Kabur ke bali


Selepas pulang kerja, kusilent notifikasi grup kantor. Sudah cukup - hari ini aku tak ingin tahu siapa yang lagi kirim setiker "semangat tim💪" padahal semua ingin kabur.

Mungkin sore ini grup sedang ramai. Biasanya kalau ada yang resign mereka heboh seperti baru kehilangan admin grup arisan: "Serius, Van? Kok nggak kasih tau dulu?"
Padahal kalau dikasih tahu pun, mereka cuma akan balas, "Gila pengen juga sih, tapi belum berani."

Aku tersenyum kecil. Begitulah siklus kantor: satu orang keluar, sisanya tetap di tempat, sambil merencanakan kabur sambil buka excel.

Tanganku mengetik pelan ke dua kontak yang paling sering jadi konsultan kehidupanku: Ibu dan Bapak.

Pak, Bu, Aku resign. Berhenti kerja.

Ku kirim. Centang dua. Biru.

Belum sempat ku taruh ponsel, layar langsung bergetar. Panggilan masuk: Ibu.

"Devan! Kamu beneran berhenti kerja?" Suara Ibu setengah berteriak.

"Iya, Bu," jawabku tenang.

"Terus kamu mau ngapain setelah itu?" Nada suaranya seperti HRD yang ingin memastikan aku punya karier rencana jangka panjang.

"Mungkin mau liburan dulu."

"Liburan?" Ibu mengulang kata itu. "Pulang aja ke Bogor. Kamu bisa mulai usaha. Temen ibu anaknya banyak yang berhenti kerja, sekarang jualan kue, sukses lho!" 

"Belum kepikiran, Bu. Dev masih mau istirahat dulu."

"Ya tapi jangan lama-lama. Orang kalau nganggur kelamaan bisa lupa cara bangun pagi."

Aku tersenyum kecil, "Justru itu tujuan utamanya, Bu."

"Rencana mau liburan kemana?" Tanya Ibu lagi, kali nadanya mencurigakan.

"Bali," jawabku pelan.

"Bali? Jangan aneh-aneh ya di sana," katanya waspada. "Ibu nonton di TV, banyak yang ke sana katanya ikut yoga, meditasi, nyari ketenangan batin, terus pulang-pulang malah ganti keyakinan."

Aku menahan tawa. "Bu, tenang aja. Dev cuma mau istirahat, bukan mau ikut sekte."

"Istirahat itu cukup di rumah! Di bogor juga banyak udara segar, ada masjid, ada sawah, apa kurang spiritual?"

Aku tertawa pelan. "Iya, Bu. Tapi kali ini Dev pengen menenangkan pikiran di tempat lain. Siapa tahu...nemu sinyal hidup yang hilang."

"Ya, sudah," katanya akhirnya. "Tapi jangan lama-lama. Di sana banyak godaannya."

Selebihnya percakapan beralih ke hal-hal klasik: Aku menanyakan kabar Bapak. "Masih suka semedi di gazebo belakang. Katanya meditasi. Entahlah. Makanya Ibu harap kamu tuh, Dev, lebih beriman. Jangan kayak bapakmu yang makin malam makin spiritual."

Aku terdiam. Antara ingin tertawa dan ingin membela Bapak.

"Keluarga besar juga suka nanyain," lanjut Ibu. "Bapak juga jarang dateng kalau selametan. Kamu juga, sama aja. Anak kok nurun yang aneh-aneh."

Aku tersenyum kecil. Mungkin benar - kami berdua memang jarang hadir. Tapi kadang absen dari doa bersama bukan karena sombong. Kadang cuma karena sibuk berdamai dengan diri sendiri.

***
Paginya aku langsung menghadap HRD. Sebelumnya memang  sudah di-chat malamnya:
"Mas, Dev, besok ke ruangan ya. Kita bahas pengunduran dirinya."

Di depanku, duduklah Jo - HRD muda berusia dua puluh tujuh tahun. Tangan Jo dilipat di atas meja, alis sedikit naik, "Beneran nih, Mas, mau resign? Ngga sayang empat belas tahun di sini?"

Aku menarik napas panjang,"Iya, sebenarnya berat...tapi mungkin ini langkah besar yang harus saya ambil."

Jo menangguk pelan. "Oke deh, kalau boleh tahu, alasan resign-nya apa ya?"

Aku menatap lurus, mencoba tampak meyakinkan. "Saya mau mencari inner peace."

Jo terdiam. Matanya kosong. Mulutnya sedikit terbuka - ekspresi seseorang yang baru saja melihat makhluk mitologi HRD: karyawan waras yang ingin tenang.

Jo tak bisa menahan tawa kecil. "Oke deh, saya catet ya, alasan resign: - mencari ketenangan jiwa."

***

Setelah urusan tanda tangan akhir di HRD selesai - selembar surat yang terasa seperti surat cerai antara aku dan gaji bulanan - aku melangkah ke ruangan CEO. Formalitas terakhir: pamit.

Lalu masuk ke ruangan atasanku, Dave. Dia menatapku dengan wajah kaget sekaligus bersalah, seperti baru sadar kalau selama ini dia lupa mengucapkan "terima kasih". Tapi aku sudah tidak tersentuh. Dalam dunia korporat, orang datang dan pergi; lulusan informatika di luar sana seabrek, perusahaan tinggal copy paste kandidat baru secepat menekan ctrl+v.

Di koridor aku bertemu Rudi. Kami berpelukan seperti dua tentara yang salah satu akhirnya gugur di medan KPI. 

"Wih, jadi juga lo resign," katanya "Rencana kemna sekarang? Perusahaan baru?"

"Enggak dulu deh, Bro. Mau healing."

"Healing ke mana? Gue ikut dong, bisa gue ajuin cuti tahunan."

"Bali."

"Bali? Jauh amat. Ngapain kesana?"

Aku menatapnya datar. "Mencari Tuhan."

Rudi terdiam. Matanya memindai wajahku, mungkin mencari tanda-tanda apakah ini sarkas, wahyu, atau gegar lembut.  "Maksud lo...kaya semedi gitu?"

Aku mengangguk pelan. "Ya semedi. Sekalian uninstall trauma kerja."

Rudi manggut-manggut dengan ekspresi bingung. "Gila sih...tapi kayaknya lo bener. Gue aja udah mimpiin KPI ngejar gue pake golok."

Aku menepuk pundaknya lembut. "Kalau nanti gue nemu Tuhan di Bali, gue kirimin lokasi share lewat whatsap ya."

Rudi ngakak. Tapi di matanya aku lihat rasa iri yang jujur - karena di dunia korporat, yang berani resign itu bukan yang paling sukses, tapi yang paling waras.

***

Malam hari aku membaringkan tubuh di atas kasur, laptop di pangkuan, jari di touchpad, pikiran di angan-angan. Ku buka tab demi tab: situs wisata, tempat meditasi, yoga retreat, sampai kosan bulanan - dari yang "harga mahasiswa" sampai yang "harga pencerahan premium."

Lalu aku buka tiket pemesanan pesawat. Ku klik from Jakarta (CGK) - to: Denpasar (DPS)

Tanggal keberangkatan...hmm, kapan ya, dua hari lagi sepertinya cukup. Masih sempat beli perlengkapan, beresin kamar, jual barang-barang yang ngga ku bawa ke Bali. Sebagian akan kuberikan ke Rudi, atau ku paketkan ke rumah. 

Begitu klik tanggal, muncul tulisan kecil: biaya tambahan: Rp65.000 untuk kursi, Rp50.000 untuk bagasi, Rp40.000 untuk oksigen emosional.

Aku menarik napas panjang. Bahkan untuk mencari kedamaian, sistem masih menemukan cara untuk memungut pajak.

Ku cari harga termurah. Ada RP875.000 tapi berangkatnya pagi. Tiket berikutnya Rp1,2 juta - jamnya manusiawi harganya tidak.

Setelah 15 menit berperang dengan pop-up iklan, captcha bergambar zebra-cross, dan tombol: "are you sure?" Yang seperti pertanyaan batin, akhirnya tiket itu terbeli. Email notifikasi masuk - cling!

Lalu muncul notifikasi tambahan: "Tambahkan asuransi perjalanan Anda hanya dengan Rp18.000." 

Aku tersenyum tipis. 
"Terima Kasih," gumamku pelan
"Tapi saya sudah diasuransikan oleh penderitaan selama empat belas tahun kerja."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suwung bab 5

5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...