4. Bertemu Panji
Dua jam perjalanan dari Jakarta ke Bali. Hampir sama lamanya dengan perjalanan dari Kuningan Jakarta Selatan ke Cengkareng. Jadi, buatku sama saja seperti duduk di Uber dengan kondisi macetnya Ibu Kota. Bedanya, di Uber Car tidak ada pramugari cantik yang menawarkan air mineral dan snack. Aku menatap ke jendela pesawat, melihat awan-awan bergumpal seperti raksasa yang sedang bermeditasi.
Pesawat mulai menukik. Aku menutup mata, membayangkan perjalanan ini menjadi langkah pertama menuju versi dirinya yang lebih tenang, lebih bijak, dan - siapa tahu - sedikit lebih berhasil.
Sesampainya di Bandara Ngurah rai, udara Bali langsung berbeda. Hangat, lembab, tapi tidak menyesakkan. Ada aroma laut yang samar-samar terbawa angin. Aku menjatuhkan diri di salah satu kursi tunggu, membuka ponsel dan mengetikan: cara ke Ubud dari Bandara.
Informasi yang kutemukan menawarkan dua pilihan - cara cepat dan cara hemat. Cara cepat menggunakan taksi bandara, sewa mobil, atau layanan Grab Gojek langsung dari Bandara - praktis, tapi dompet harus rela sedikit menipis. Cara hemat mengharuskanku menjuju Kuta terlebih dahulu. Lebih lama, tapi waktunya lebih lentur, seolah Bali memang ingin mengajariku untuk tidak tergesa. Setelah mempertimbangkan bahwa aku sedang tidak dikejar deadline apa pun, kupilih cara hemat saja.
Perjalanan lewat Kuta memang lebih effort, tapi itu justru membuatnya menarik. Aku bisa berjalan santai di tepi jalan, menikmati hiruk-pikuk wisatawan, aroma kopi, kue yang menyeruak dari kafe kecil, serta langit bali yang seolah punya gradasi warna tersendiri - antara biru, debu, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi terasa hangat.
***
Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya aku tiba di Ubud - tepatnya di Jalan Goutama, salah satu ruas yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Aku berjalan seperti backpacker yang kehilangan arah, luntang-lantung di antara kafe, galeri, dan papan yoga retreat. Tas carrier besar menggantung di punggung, sementara duffle bag kutenteng di tangan. Sekilas, aku mungkin tampak seperti pencari ketenangan dengan saldo menipis.
Aku duduk di salah satu kafe, setelah beberapa kali kebingungan memilih di mana harus berhenti. Sepanjang jalan ini, semua kafe tampak estetik dan menggoda untuk dimasuki. Akhirnya aku memilih sebuah kafe dengan pastry yang terpajang cantik di etalase, begitu menggugah selera.
Kubuka ponsel, mengetik kata kunci: tempat retreat, wellnes, meditasi, yoga terdekat. Hasilnya membanjiri. Google Maps menampilkan deretan tempat dengan ulasan dan rating bintang.
Aku men-scroll perlahan, mencari lokasi yang semakin menjauh dari hiruk-pikuk dan semakin dekat dengan hutan. Dalam pikiranku, semakin dekat dengan alam, semakin dekat pula dengan ketenangan.
Sampai akhirnya, muncul satu nama: Tirta Semedi. Dari foto-fotonya, tempat itu tampak sejuk dan sederhana. Rating bintang lima, ulasannya hangat - banyak yang menuliskan kesejukan udaranya dan suasana yang menyenangkan. Paketnya pun cukup terjangkau, sesuatu yang terdengar di kalimat yang sama dengan kata retreat.
Kubuka buka aplikasi ojek online dan mengetik nama tempat itu, ternyata hanya lima belas menit dari posisiku sekarang. Tanpa pikir panjang aku berdiri, meraih tas, dan menjuju kasir dan membayar kopi yang tinggal setengah.
***
Di sepanjang perjalanan, jalanan di penuhi umbul-umbul janur yang melambai seperti sedang memberi salam kepada setiap pengendara. Perempuan-perempuan mengenakan kebaya Bali berjalan anggun membawa canang sari di atas kepala - sesembahan khas di Bali disebut banten. Aroma dupa menyeruak di udara, bercampur dengan semilir angin dan rimbunnya pepohonan yang membuat perjalanan terasa seperti masuk ke dunia lain - versi yang lebih wangi dan lebih spiritual dari Google Earth.
Sampailah aku di sebuah tempat dengan banyak bambu kuning yang berjejer di sisi gapura - penjor, kata orang Bali. Gapuranya tampak sederhana tapi sakral, seperti sedang berkata: "Silahkan mauk, tapi tolong copot dulu egomu."
Begitu aku melangkah masuk ke area Tirta Semedi, susananya langsung berubah. Udaranya terasa lebih tenang, suara motor hilang diganti kicau burung dan gemericik air dari pancuran kecil entah asli atau buatan. Beberapa orang bersila di bale-bale bambu, matanya terpejam khusyuk, seperti sedang mengunduh ketenangan.
Aku melangkah menuju sebuah meja yang aku pikir adalah meja resepsionis. Di balik meja itu, seorang perempuan muda berambut cepol, mengenakan pakaian kebaya bali yang di sebut kebaya kemen, menyapaku dengan senyum ramah.
"Selamat datang di Tirta Semedi," Katanya pelan. Tatapannya lalu turun dari wajah ke tas punggungku yang sebesar koper pindahan kos. Seketika senyumnya menegang. Mungkin di pikirannya sedang bertanya-tanya, ini tamu atau pendaki yang nyasar?
"Maaf apa ini tempat meditasi, kan?" Tanyaku sopan.
"Iya," Jawabnya singkat, tapi nadanya berubah satu nada lebih waspada. "Mas-nya ada perlu apa ya?"
"Saya mau ikut kelas meditasi di sini," Kataku mantap, langsung duduk tanpa di persikahkan. Kulihat name tag di dadanya bertuliskan Devi.
"Mas, baru ya? Nih, saya kasih brosurnya dulu." Katanya sambil menyodorkan selebaran berwarna pastel dengan foto-foto orang bermeditasi dalam posisi yang terlihat mustahil nyaman.
Di sana tertera berbagai paket: dari pemula, menengah, hingga mahir. Semuanya lengkap dengan durasi dan, tentu saja, tarif yang membuatku ikut bermeditasi sebentar - menengangkan dompetku sendiri.
"Mba, kalau yang pemula itu yang ini ya?" Tanyaku, menunjuk paket paling murah dan paling pendek durasinya.
"Itu sudah berubah, Mas" Jelas Devi. "Sekarang kelas pemula cuma ada hari Sabtu-Minggu, karena peminatnya banyak. Jadi sekalian dikumpulin biar rame."
Aku mengangguk, sambil dalam hati menghitung hari. Senin sampai Jumat aku ngapain? Mungkin kerja di Bali bisa jadi ide bagus...kalau saja di Ubud ada lowongan IT Support atau bidang IT apa pun.
"Oke, saya ambil yang itu aja, Mbak Devi." Kataku Antusias. Dia sedikit terkejut mendengar namanya kusebut, tapi tetap tersenyum profesional. Setelah pembayaran dan ID card selesai, Devi - yang kemudian menyuruhku cukup panggil Devi saja - mengajakku berkeliling Tirta Semedi.
Ternyata tempanya luas, banyak area terbuka dengan pepohonan, dan suasana hening yang terasa...terlalu hening, sampai aku bisa mendengar suara pikiranku sendiri sedang menyesal tidak makan dulu.
"Ada tempat makan di sekitar sini, nggak?" tanyaku akhirnya.
"Di ujung jalan ke kanan, ada warung nasi khas bali. Murah tapi enak,"jawab Devi
***
Benar saja, di ujung jalan itu berdiri sebuah plang kayu bulat bertuliskan Warung Suwung. Aku berhenti sejenak. "Suwung", pikirku, "Bahasa apa itu ya?" Kuketik di Google - artinya sepi.
Aku tersenyum kecil, cocok, seuasana hening Bali banget, pikirku sambil melangkah masuk. Tapi begitu masuk, kesepianku langsung ditertawakan semesta. Warung Suwung ternyata sama sekali tidak suwung.
Suara piring beradu, sendok jatuh, dan tawa para bule bercampur dengan aroma bawang goreng dan sambal matah. Kalau ini definisi suwung, mungkin artinya "ramai tapi hati tenang".
Tempatnya unik: di halaman sebuah rumah dengan pepohonan rindang, warung kayu sederhana berdiri di bawah naungan daun-daun besar. di setiap meja, asap tipis dari nasi panas perlahan seperti dupa spiritual versi kuliner.
Aku duduk di pojok dan membuka menu. Tulisan tangannya sederhana tapi menggoda:
1. Nasi campur bali - lengkap dengan ayam suwir berbumbu base genap, sate lilit, lawar, telur pindang, dan sambal matah yang bisa membakar dosa masa lalu.
2. Tipat Cantok - mlontong dengan sayur rebus dan saus kacaqng kental, sederhana tapi mebuat hati tentram.
3. Ayam betutu - yang katanya dimasak berjam-jam dengan daun pisang, mungkin karena sang ayam juga butuh waktu untuk mencapai nirwana.
4. dan tentu saja, Es Daluman, hijau lembut dengan santan dan gula merah - manisnya seperti hidup setelah gajian.
Aku memesan nasi campur dan es daluman. Setelah menikmati hidangan, aku beranjak ke meja kasir. Tampak pria seumuranku menyapa dengan ramah.
Di sana, seorang pria seumuranku menyapa dengan ramah. "Selamat sore, Mas." Suaranya tenang, seperti orang yang sudah berdamai dengan hidup - atau mungkin dengan artian pelanggan.
"Meja nomor delapan. Totalnya berapa, Mas?" Tanyaku
"lima puluh lima ribu. Mau bayar pakai Qris atau tunai?" Nada suaranya santai, tapi matanya jeli memantau layar ponselku seperti wasit digital.
"Pakai Qris aja." Aku mengeluarkan ponsel dan men-scan barcode di meja. Ia tersenyum kecil, lalu bertanya, "Mas, mau ke mana, kalau boleh tahu?"
"Saya mau ikut kelas di Tirta Semedi. Tapi baruminggu depan, katanya kelas pemula ada di hari sabtu minggu." Jawabku.
"Oh, cocok tuh," ujarnya. "Tapi Mas nginep di mana selama minggu minggu depan?"
Aku menggeleng. "Nah, itu dia yang belum tahu. Ada saran tempat menginap?"
Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum. "Kebetulan, di belakang warung ini ada kamar kosong. Kalau Mas nggak keberatan tempat sederhana, bisa saya tunjukin. Sekalian biar nggak jauh-jauh cari sarapan."
Aku terdiam sesaat. Ini kebetulan atau semesta yang sedang bekerja lembur? Aku mengangguk, setuju tanpa pikir panjang.
"Oh iya, nama saya Panji," katanya sambil melepas celemeknya. "Tenang aja, Mas. Di ubud ini harga-harga msih manusiaw. Nggak seperti di Denpasar yang sudah tercerahkan dalam urusan tarif."
Kami tertawa kecil. Panji kemudian mengantarku ke belakang warung, melewati lorong kecil dengan tanaman gantung dan suara jangkrik yang mulai muncul. Ruangannya sederhana - ada ranjang kayu, kipas angin, dan jendela yang langsung menghadap pohon pisang.
Sederhana, tapi terasa damai. Mungkin karena di sini, suwung akhirnya benar-benar berarti suwung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar