5 Melukat
Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, tempat setiap pintu tak pernah berhenti dibuka dan di tutup penghuninya, tempat suara sandal bergesek di lantai atau suara tawa keras di kamar sebelah seperti sebuah lagu pengantar tidur yang tak pernah kunjung usai.
Tapi di sini. di Ubud, semuanya diam. Diam yang bukan kosong, melainkan sesuatu yang menyimpan lebih dalam - seperti nafas bumi yang melambat. Udara terasa sejuk, menempel lembut di kulit. Aku bahkan mematikan AC karena angin malam sudah membuatku cukup untuk menarik selimut.
Sekitar jam empat pagi, suara samar dari dapur membangunkanku. Denting sendok, bunyi air mengalir, dan percakapan pelan terdengar melalui getaran sunyinya pagi. Dunia di sini rupanya mulai lebih pagi daripada kehidupanku yang biasanya. Aku terdiam di ranjang, hanya mendengarkan. Ada sesuatu yang menenangkan dalam kesibukan sunyi itu - seolah alam dan manusia di sini sudah lama sepakat untuk saling menghormati waktu.
Aku membuka jendela. Udara pagi menampar wajahku dengan kesejukan yang belum pernah kurasakan selama tinggal di Jakarta. Di luar sana, Raka sudah sibuk - bergerak lincah di dapur seperti seorang chef profesional di acara MasterChef.
Aroma tipis mengepul dari wajan, membawa serta aroma bumbu bali, kunyit, jahe, kencur - harum yang merambat pelan masuk ke dalam kamarku, menggoda sekaligus menyiksa perut yang belum sempat diisi. Aku bertanya-tanya masakan apa yang dia racik di pagi itu; sesuatu yang pasti berwarna kuning pekat, mungkin pedas, dan tentu saja penuh cinta khas dapur orang Bali.
Setelah mandi dan berganti pakaian - kemeja linen tipis dan celana panjang senada- aku memutuskan untuk menghirup udara di luar sambil berjalan santai. Ku periksa sekali lagi isi kamar, lalu kututup pintu dan menguncinya. Kusampirkan sandal dan melangkah ke luar tanpa rencana apa pun, hanya mengikuti dorongan untuk melihat seperti apa wajah Ubud di pagi hari.
Aku berjalan melewati warung Suwung - Raka tak terlihat di sana. Aku terus berjalan, mengikuti rasa ingin tahu yang tak tahu arah, hingga kakiku sampai di sebuah gang bertuliskan:
"Melukat: Sucikan Diri, Tenangkan Jiwa, Kembali pada Sumber Air Kehidupan"
Tulisan di bawahnya: "Air suci, hati bersih, biaya menyesuaikan". Dari dulu aku selalu penasaran seperti apa melukat itu. Ritual yang sering disebut-sebut sebagai cara menyucikan diri, tapi bagiku hanya sebatas informasi bergerak di layar ponsel - video- video singkat di media sosial yang menampilkan orang-orang bersembahyang di bawah pancuran air, wajah mereka khusyuk, pakaian mereka basah, dan air mengalir ke tubuh mereka.
Ada juga versi yang lebih menggugah: Seseorang berdiri di depan air terjun, lalu beretriak sekuat tenaga ke arah gemuruh air yang jatuh. Katanya itu merupakan cara untuk melepaskan energi negatif yang mengendap di dalam tubuh. Melepaskan semua sampah yang tak lagi perlu di tubuh, semua yang menyesakan dada.
Aku belum sempat berpikir terlalu jauh ketika sebuah suara muncul di belakangku. "Mau coba, Dev?"
Aku menoleh. Raka, tentu saja. Ia berdiri beberapa langkah di belakangku. membawa senyum santai. "Loh, Raka? Kok kamu bisa di sini juga? Saya kira kamu di Warung."
"Warung udah jalan sendiri," jawabnya ringan. "Sekarang autopilot. Tinggal atur di awal, semua akan jalan mengikuti ritme dan SOP-nya. Kamu gimana, mau melukat?"
Aku tersenyum, "Iya sih, rencananya mau coba di tempat terkenal itu, tapi kok ini deket banget, ya." Jawabku
"Iya, ini versi hemat tapi ampuh. Kalau mau, sore kita bareng aja." Ajaknya
Aku mengangguk tanpa banyak berpikir. Entah kenapa, ajakannya terdengar lebih meyakinkan.
Setelah iu kami berjalan pulang sambil ngobrol. Dari obrolan itu aku tahu, Rakadulu juga pendatang - sepuluh tahun lalu datang ke Bali setelah menjual bisnis dan beberapa investasinya di Jakarta. "Awalnya sama kaya kamu niatnya healing, tapi malah jadi keterusan dan sampai buka usaha di sini."
Aku tertawa kecil. Ada sesuatu di nada suaranya - campuran antara kebebasan dan penyerahan. Dan entah kenapa, aku merasa ucapan itu bukan sekedar cerita tentang Raka, tapi semacam pesan halus yang ditujukan kepadaku juga.
Sesampainya di warung, kami sarapan. Setelah kenyang aku kembali ke kamar, aku membuka laptop - mencari lowongan kerja. Ada beberapa lowongan kerja di Denpasar, bidang IT. Menurutku terlalu jauh, akan memakan banyak biaya kalau aku harus bolak balik denpasar-ubud. Aku mencari daerah sekitar sini, tapi untuk lowongan IT sangat jarang. Kebanyakan menawarkan pekerjaan di sektor non-formal seperti penjaga toko, barista, taour guide, administrasi.
Karena tak juga ku temukan apa yang aku cari. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari tempat penyewaan motor. Jalan - jalan keliling Ubud bisa jadi mengenal tempat ini dan mungkin akan aku temukan selebaran lowongan pekerjaan di depan toko atau tempat usaha di sini.
Setelah melaju kendaraan terlalu jauh, berkeliling ke sana kemari. Aku memutuskan berhenti di sebuah tempat unik. Serayu Pot - workshop keramik, aku masuk ke dalamnya rupanya ini tempat ini terkenal di media sosial. Banyak video tiktok menggambarkan bagusnya tempat ini.
Setelah lama masuk ke dalamnya beberapa menawarkan
"
Aku terbangun, ku abaikan suara alarm di ponsel. Malam pertama di sini terasa sejuk, malah kumatikan AC di kamar. Jam 4 aku terbangun ku dengar samar samar di dapur warung sudah banyak suara, mereka mempersiapkan masakan untuk esok.
Ku buka jendela, ada Panji di sana. Benar dugaanku warung sudah riuh dengar suara, aroma masakan menyeruak samar ke dalam kamar akibat ku matikan AC. Aku beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri.
Aku membuka kamar jam 7 pagi, memakai setelan santai. Aku ingin berjalan santai menikmati udara segar dan lebih mengenal suasana daerah di sini.
Aku berjalan melewati warung, ku dongakan kepala melihat ke dalam warung, tapi Panji tidak ada di sana.
Ku buka gerbang, dan mulai berjalan dari pertigaan lurus. Mungkin sekitar berapa kilometer aku berjalan dan kembali menikmati sarapan di warung suwung.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, ada satu gang yang terdapat gapura dengan plang yang menarik bagiku: Melukat: Cari kedamaian dengan kegiatan spiritual.
Aku memasukinya, pernah ku buka media sosial dan menemukan postingan video orang yang sedang melukat. Aku tertarik tadinya aku akan melukat di beberapa tempat terkenal di Bali. Tapi melihat plang yang tidak jauh dari tempat tinggalku aku rasa itu jadi pilihan sebelum mencoba ke berbagai tempat.
"Mau coba, Dev?" Suara dari belakangku mengagetkan.
"Loh, mas panji, eh Panji kok ada di sini?" Aku malah bertanya balik. "Iya, mau cobain, Ji. Tadinya mau mencoba di tempat melukat yang saya temukan di postingan instagram, ternyata dekat kosan ada."
"Iya, tempat ini merupakan versi melukat sederhana, tapi di dalam sana ada air terjun penyucian juga. Kalau kamu mau sore nanti kita bisa ke sini."
"Wah, oke, Ji."
Kami pub beranjak dari tempat itu, mengobrol ringan dari obrolan itu aku bsru tahu kalau panji juga pendatang sama sepertiku. Dia sudah hampir 10 tahun pindah ke Bali. Dia menjual properti dan tabungan dari bisnisnya di jakarta untuk menetap di sini. Melihatku kemarin memakai tas ransel mengingatkannya saat pertama merantau ke bali dan tak ada satu pun yang dia kenal.
Setelah sampai di rumah. Saya langsung diajak ke warung untuk sarapan. Setelah itu entah apa yang akan saya lakukan. Kubuka laptop searching beberapa lowongan kerja di sekitar sini. Pencarianku menghasilkan beberapa lowongan kerja ada di denpasar yang sesuai dengan background sekolahku: IT.
Tapi sebenarnya tidak masalah kerja sebagai apa pun. Toh, di sini tidak ada yang mengenalku. Aku memutuskan menyewa sepeda motor dan berkeliling di sekitar ubud. Mencoba beberapa kopi di sini.
Tempat yang aku kunjungi adalah sebuah kafe kecil setelah aku mengunjungi suatu tempat unik yang banyak terdapat pot pot yang di cat dan sengaja ditata sedemikian rupa sampai di atas langit langit membentuk lorong penuh benda benda keramik. Di samping itu tempat tersebut juga merupakan workshop pembuatan keramik. Tempat itu bernama serayu pot.
Aku duduk di kafe tersebut, memesan kopi karamel late. Memperhatikan orang orang di kafe tersebut. Datanglah seorang perempuan membawakan kopi.
"Nih, kopinya, Dev." Aku mendongakan muka, dia Devi. Resepsionis di Tirta Semedi.
"Dev, kamu kerja juga di sini?" Aku menanyakan kaget yang dibalas dia tersenyum.
Dia duduk di sampingku, dan meletakan kopi juga. Rupanya dia membawa dua kopi. Aku pikir apa tidak jadi masalah dia menemaniku di sini. Lama aku mengamatinya.
"Jangan-jangan kamu pemilik kafe ini," aku mencoba menebak
Devi tertawa santai, "Aku bingung harus menjelaskannya, Aku di percaya saudaraku untuk mengelola kafe ini." Terangnya. "Gimana dapet kosan dimana?"
"Di warung suwung, pemiliknya Panji mengatakan ada ruangan kosong di samping rumahnya. Biasanya tempat itu jadi kamar tamu."
"Wah, deket dengan Tirta Semedi, ya. Besok kan kelas meditasinya?"
"Ya, jam 10 pagi."
"Pasti akan seru mas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar