2 Jakarta, Macet dan Bau Kehidupan
Jakarta itu punya dua mode: macet dan macet banget.Opsi kendaraan yang paling cepat ya ojol. Cepat bukan karena mesinnya, tetapi karena abang ojol punya kemampuan nge-nyelip antara celah mobil seperti pertikel debu di ventilasi.
Tapi ya itu, dari kosan wangi, sampai kantor udah jadi campuran parfum "Eu de polusi": ada asap knalpot, bakaran tambal ban, dan sedikit aroma gorengan dari warung depan indomaret. Setiap turun dari ojol aku seperti sate manusia: setengah matang, banyak bumbu asap, tapi harus tetap senyum di kantor seolah semua baik-baik saja.
Lucunya, orang Jakarta menganggap semua itu normal. Kita ngeluh sambil udate instastory: "Macet banget tapi tetap semangat". Padahal dalam hati pengen resign tapi masih butuh duit.
Perjalanan ojol berakhir di depan kantor — gedung 12 lantai dengan AC sentral dan mimpi-mimpi yang sudah dibekukan di dalamnya. Satpam menyapaku ramah, seperti biasa, dengan kalimat favoritnya:
“Telat lagi, Pak Devan?”Aku hanya nyengir.
Jam di dinding menunjukkan pukul 08.57. Tiga menit sebelum waktu absen ditutup. Dalam dunia korporat, tiga menit itu perbedaan antara “pegawai teladan” dan “target sidak HRD.”
Lift berhenti di lantai tujuh, tempat divisiku bekerja IT Support — divisi yang katanya penting tapi nggak pernah disebut dalam rapat direksi. Tugasku sudah 14 tahun di situ: mengerjakan hal yang sama, dengan komputer yang sama, di bawah atasan yang makin muda dan makin sering pakai skincare. Setiap kali ada yang eror, semua orang bilang "Panggil IT!". Padahal masalahnya kadang cuma colokan belum dicolok. Yang lebih parah temenku Rudi, dia sering manggil buat tes jaringan, padahal minta tolong instal game.
Aku menyalakan komputer, sebuah peninggalan arkeologi bernama core i3 generasi pertama, yang butuh doa pembuka, dzikir penutup dan sedikit keberuntungan agar mau menyala. Aku menarik nafas dalam dalaam. Inhale. Exhale. Katanya dari buku mindfulness yang kubaca, teknik ini bisa menurunkan stres.
Kubuka kembali dokumen-dokumen kerjaku, semuanya lengkap: tiket toubleshooting, laporan inventaris aset, sampai dokumen paling sakral di jagat IT support - The Prayer Book, alias prosedur back up dan recovery. Orang awam kira isinya kumpulan doa-doa. Padahal, memang iya - doa agar server tidak mati saat jam kerja.
Kenapa harus lengkap? Karena hari ini ada meeting. Atasanku Dave, punya alergi paling akut terhadap dokumen yang belum "diperbaharui". Bukan karena dia rajin, tapi karena itu satu-satunya cara dia merasa lebih unggul dariku. Dia tidak suka aku terlihat kompeten. Katanya "kerja tim", tapi yang dia maksud "aku kerja, dia tim".
Dave adalah jenis manajer yang tidak paham apa yang sedang terjadi, tetapi selalu tampak sedang memberi TED talk.
Kemarin saja dia bilang, "Kita harus mengadopsi blokchain dan Al-Driven solution untuk helpdesk kita."
Padahal helpdesk kita masih pakai Excel 2010, dan butuh waktu lima menit buat buka satu file karena macro-nya sudah pensiun dini. Kalimatnya terdengar canggih, tapi ujung-ujungnya aku juga yang disuruh "coba googling dulu ya gimana caranya."
Empat belas tahun aku kerja di sini, dan tak pernah kubayangkan bisa bertahan sejauh ini - mungkin karena server room dinginnya seperti surga kecil tempatku merenung setiap kali ingin resign.
Dave jadi manager IT bukan karena kemampuan teknisnya, tetapi karena ada peleburan divisi administrasi dan IT. Dan violla - lahirlah makhluk ambigu: manajer yang bisa bikin surat dinas tapi panik kalau printer minta kertas.
Dave problematik karena hidupnya seperti aplikasi filter: semuanya harus tampak sempurna di permukaan. Dia terobsesi dengan tubuh ideal, rajin ke gym setiap hari, bahkan pernah menyarankan kantor beli dumbbell "biar suasana kerja lebih sehat dan produktif". Padahal yang dia maksud "lebih sehat" adalah "biar bisa pamer otot bisceps saat stand up meeting".
Setiap pagi dia datang ke kantor dengan memakai baju fit tight, sambil membawa tumbler besar bertuliskan "Grind. Glow. Grow." Kadang aku bingung dia ini manajer IT atau motivator fitness start-up.
Dan ditengah obsesi itu, ada satu nama yang sering disebutnya dengan nada lembut dan penuh hormat: Rudi - staf administrasi sekaligus teman cabut ke parkiran kalau suasana kantor mulai menekan. Perawakan rudi gagah, bahu lebar dan otot perut six-pack. Kalau Rudy lewat Dave jadi versi jinak, nada bicaranya turun satu oktaf, senyum naik dua sentimeter.
Aku masuk ke pantry kantor, surga kecil dengan aroma kopi sachet dan suara dispenser galon yang berdendang pelan. Kuambil gelas bertuliskan "Company Property - Do not take home", lalu kuseduh kopi gratis yang rasanya seperti kompromi antara kafein dan kopi hangat.
Rudi sudah di sana menyesap kopi sambil bersandar ke Pantry,
"Lo keliatan kusut, Bro," katanya, menatapku seperti HRD yang baru lihat laporan absensi.
"Kelihatan banget, ya?" Aku melirik bayanganku di cermin kecil di sudut pantry. Wajah lelah dengan mata yang seolah berkata: kenapa aku masih di sini?
"Banget," kata Rudi, "Lo kayaknya kudu healing."
Aku menatapnya dengan tatapan filosofis pegawai yang sudah kehilangan harapan.
“Healing buat budak korporat kayak kita tuh mitos, Rud. Kalau gue cuti, Dave bakal langsung berubah jadi sirene alarm sistem: nyaring dan penuh tuduhan.”
Rudi tertawa kecil. “Beda cerita kalau gue yang ngajuin. Bisa-bisa dia malah ngikut, ‘demi kolaborasi lintas divisi’.”
Kami tertawa — tawa getir dua karyawan yang tahu bahwa humor adalah satu-satunya tunjangan emosional yang tersisa. Setelah itu kami kembali ke kubikel, menyiapkan dokumen rapat sambil pura-pura produktif.
***
Rapat akhirnya dimulai. Kami duduk di sekitar meja ouval - bentuk yang konon melambangkan kesetaraan, tapi entah kenapa tempat duduku selalu paling dekat dengan pintu keluar.
Semakin dekat dengan papan presentasi, semakin tinggi jabatanmu. Dan tentu saja Dave duduk paling dekat dengan CEO - posisi strategis untuk mengangguk penuh semangat setiap kali bos bilang "kita harus lebih inovatif."
Aku duduk di sebelah Rudi, sama sama berusaha tampak serius padahal kami hanya menghitung berapa menit lagi sebelum excel hang ditengah presentasi keuangan.
Satu per satu divisi menyampaikan laporan pertanggungjawaban. Dan tibalah giliran IT.
Dave berdiri, dengan gaya presenter TEDx yang overdosis percaya diri.
"Saya telah memikirkan berbagai terobosan agar operasional tetap lancar," ujarnya sambil menunjuk slide yang aku tahu pasti ada hasil kerja lemburku minggu lalu.
Rapat ditutup dengan pembagian KPI - momen tahunan di mana motivasi kinerja diuji lebih keras dari firewall kantor.
Aku menerima kertas nilainya, dan seperti biasa, skorku rendah. Evaluatornya? Siapa lagi - Dave, sang visioner tanpa visi.
Kecewa? Jelas. Tapi aku tidak kaget. Aku kembali ke kubikel, membuka draft email di folder draft. Sebuah surat pengunduran diri - sudah tida tahun mengendap. Kadang aku pikir, niat resign ini bukan rencana, tapi ritual. Setiap kali KPI turun, aku buka draft itu, baca isinnya, lalu menutupnya lagi.
Kali ini tekadku membara, seperti tentara yang siap terjun ke medan perang - cuma senjataku email resign. Draft surat pengunduran diri itu kubuka lagi, huruf-hurufnya seperti mantra pembebasan: Dear HRD, dengan hormat...
Tanganku mengetik alamat email HRD, dan kupencet send. Layar menampilkan tulisan kecil: message sent. Rasanya heroik...sampai aku sadar, jam sudah lima sore.
Email itu baru akan dibaca besok pagi - tepat saat HRD menyesap kopi dan berkata pelan,
"Tambah satu lagi, target turnover tercapai."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar