ORANG GILA
“Orang gila... orang gila...”
“Orang gila...orang gil....”
“Lariiii.........”
Aku terbangun. Suara anak-anak di depan rumah menusuk ketenangan tidur siangku. Hari ini aku libur dan rencanaku cuma satu: tidur, membiarkan waktu bergerak perlahan di rumah sewaan ini, di pinggir ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Aku terbangun di lantai dua, merenggangkan tubuh sambil melongok ke jendela. Anak-anak komplek ini yang sedang membuat kekacauan kecil, mentertawakan dan mengejek seorang ibu yang memakai baju compang camping, lusuh dan rambut gimbal sebahu.
Satu pertanyaan mengganjal di kepala: bagaimana mungkin orang seperti itu bisa lolos dari pengawasan satpam perumahan?
Aku menutup jendela, membiarkan suara anak-anak yang kurang sopan itu mengalir pergi begitu saja. Mencoba memejamkan mata kembali, tapi sadar - sekali terjaga, tidur itu tidak lagi ramah padaku.
Aku meraih smartphone, scroll tanpa tujuan jelas, mencari-cari informasi tentang perumahan ini. Semua tampak normal - jalan beton, rumah berjajar rapi, pepohonan kering di trotoar.
Suara anak-anak mereda. Sepi. Harusnya ketenangan datang, tapi justru rasa penasaran menggerogoti. Aku bangun dari tempat tidur, melangkah perlahan ke jendela.
Dan dia masih ada. Ibu itu berdiri, menataplurus ke arahku. Jantungku mendadak berpacu. Baru beberapa menit lalu Ia tersenyum - senyum yang membuat darahku membeku. Refleks, aku mundur, mencari perlindungan di balik jendela.
Ketika aku berani menengok kembali, ibu itu telah hilang dari pandangan. Seolah tidak pernah menatap dan tersenyum kepadaku.
Aku mencoba meyakinkan diri: mungkin itu hanya imajinasiku. Ketika kulongok lagi ke arah luar jendela, ibu itu sudah lenyap. Hilang begitu cepat, seakan ditelan oleh bayangan.
Pikiran lain segera muncul - apakah pintu rumah sudah terkunci? apa mungkin dia bisa masuk? Rasa takut mencekam, meski aku tahu itu terdengar konyol.
Entahlah. Mungkin karena terlalu sering menonton film horor dan thriller, aku jadi mudah parno. Tapi di kota pinggiran ini, di rumah sewaan yang sunyi, paranoia terasa wajar. Karena ketika bayangan bergerak tanpa suara, dan mata yang menatap muncul lalu hilang, akal sehat mulai goyah, dan bahkan udara pun terasa penuh ancaman.
Segera aku membuka pintu kamar dan menuruni tangga, langkahku cepat tapi hati-hati. Sampai di pintu depan, tanganku menekan gagang—terkunci. Napasku panjang, lega yang pahit merayap di dada. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang terjadi.
Aku berdiri di sana, termenung. Betapa seharusnya siang ini aku hanya berleha-leha di atas kasur, membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat dari target-target penjualan yang menekan di kantor. Namun, kenyataannya? Tidur siangku terganggu, digoyang oleh bayangan, ketakutan, dan rasa penasaran yang tak diundang.
Di kota yang terlihat tenang, bahkan satu jam istirahat bisa berubah menjadi medan perang kecil antara ketenangan dan paranoia. Dan aku, hanya manusia biasa, menjadi pion dari imajinasi sendiri—atau mungkin sesuatu yang nyata, menunggu di luar sana.
Tiba-tiba ada bayangan sekelebat dari dapur. Aku gemetar. Dengan langkah hati-hati aku maju sedikit - jaraknya tidak terlalu jauh. Aku siap menjerit jika benar ada orang jahat yang masuk ke rumah ini. Bahkan aku berlari sedikit, inginn mengejutkannya sebelum sempat dia mengejutkanku.
Namun, tak ada siapapun. Tidak ada sosok di dapur. Tapi keyakinanku bahwa tadi ada seseorang yang melintas tidak hilang. Suasana semakin mencekam, udara seakan menebal dan menekan dada.
Aku teringat - rumah ini punya CCTV. Alasanku membayar lebih mahal di banding tempat lain adalah karena rumah ini terpasang CCTVyang terintegrasi dengan handphone. Aku membuka aplikasi, menatap layar, berharap melihat sesuatu yang logis—orang asing, pencuri, atau setidaknya bayangan yang nyata. Tapi layar tetap hitam, rekaman menunjukkan ruang yang kosong.
Dengan hati-hati, aku kembali ke tempat tidur dan duduk di atas kasur. Layar handphone menampilkan sudut-sudut rumah—ruang tamu, dapur, koridor. Aku mulai memutar ulang rekaman, menyesuaikan waktu agar bisa melihat apa yang sempat membuatku terkejut.
Setiap frame bergerak lambat di mataku, tapi tidak ada yang bergerak di sana—tidak ada bayangan, tidak ada sosok. Hanya kursi, meja, lantai kayu yang sunyi.
Hasilnya tidak ada yang aneh. Ada beberapa sudut depan rumah aman, belakang rumah pun aman. Aku coba beralih ke samping-samping rumah pun aman. Aku bernafas lega tidak ada yang aneh dengan rumah ini. Malah aku bersyukur dengan cctv yang banyak ini.
Aku teringat satu kamera cctv yang terpasang di atas jendela kamar, menghadap langsung ke jalan. Aku membuka folder rekamannya dan memutar kejadian 30 menit yang lalu.
Di tampak layar anak-anak komplek, berteriak dan berlarian, meledek seorang ibu yang mereka panggil sebagai "orang gila".
Rasa penasaran menggerogoti - benarkah ibu tadi menatapku dan tersenyum, atau itu hanya imajinasiku? Aku mempercepat video CCTV, menahan nafas. Tidak ada tanda senyum ke arah jendela kamar. Ia hanya menunduk, diam.
Aku memutar ulang sekali lagi, mempercepat rekaman, berharap menangkap sesuatu yang terlewat. Tetapi hasilnya tetap sama. Dia tidak menatap ke atas, tidak tersenyum, hanya menunduk.
Tubuhku bersandar ke dinding, menatap langit-langit kamar. Apa yang sebenarnya ku lakukan? Benar-benar minggu yang menyebalkan.
Aku memejamkan mata sebentar, tapi suara bergeser dari bawah ranjang membuat darahku serasa berhenti sejenak. Ada bau busuk yang menusuk hidung.
Ranjang ini tipe king, 180 cm x 200 cm, cukup tinggi sehingga suka aku jadikan tempat penyimpanan buku dan beberapa dus sepatu. Dengan malas, aku meunduk, mencoba mengintip ke bagian bawah ranjang.
Betapa terkejutnya aku. Napasku tercekat, ingin menjerit, tapi sesuatu menahan suaraku. Bau busuk menyeruak, tangan kotor mencengkeram leherku begitu cepat—seolah waktu melambat hanya untuk momen itu.
Aku ingin menjerit, ingin melawan, tapi sulit. Semua gerakanku terasa terhenti.
Orang gila itu meringis. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada niat membunuh. Tapi kekuatan yang ia miliki membuatku tak bisa bergerak. Ibu itu—ya, ibu itu—memegang leherku dengan pegangan yang tak bisa dijelaskan, keras tapi bukan untuk mencekikku.
Detik-detik itu terasa panjang, hening, hanya aku dan sosoknya, serta kekuatan yang mengalir tanpa kata. Di antara rasa takut dan ketegangan, aku menyadari satu hal: ada sesuatu di mata ibu itu, sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kemarahan atau kebencian—sebuah rahasia, atau pesan yang belum bisa aku mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar