Selasa, 03 September 2024

JANJI

 

Janji adalah kata yang berat, lebih dari rangkaian suara. Janji memberi harapan, menandai seseorang yang memiliki pendirian kuat. Janji itu suci - sebuah ikatan yang menumbuhkan kesetian sekuat baja. Seperti merpati yang kembali pada pasangannya, janji membawa kepastian dan kepercayaan. 

Tapi, di zaman sekarang, apakah masih ada yang memegang prinsip janji seperti itu? ketika janji kerap disalahartikan, menjadi permainan kata-kata, dan kesuciannya dilanggar oleh mereka yang tidak menghargainya. 

Sama sepertiku sekarang. Aku pernah berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh - janji yang terdengar sederhana, tapi lahir dari harapan besar. Itu pun...kalau aku diterima bekerja. 

Sejauh ini beberapa lamaran sudah ku kirim - baik lewat online maupun aku sebar ke beberapa perusahaan. Tapi memang benar, di tahun-trahun seperti ini, mencari pekerjaan seperti mencari jarum di padang yang tak lagi berumput. Dan Aku mulai bertanya- tanya, janji yang dulu ku ikrarkan itu...kini terselip di mana?

Sekarang, Aku bertekad untuk bekerja apa pun. Asal pekerjaan itu baik dan bukan jalan kriminal - aku siap menjalaninya. 

Dan hari ini, di depanku, duduk seorang HRD mewawancaraiku. Seorang wanita mungkin berusia sekitar lima puluh. Berperawakan gempal dengan potongan rambut wavy bob yang rapi, seperti kepribadiannya yang sulit ditebak- tenang tapi tajam mengamati.

“Oke, nama kamu Andra," ucap Bu Winda sambil menatap lembar CV di tangannya.

"Pengalaman kamu satu tahun di marketing Honda, dan dua tahun terakhir di Bank. Bagus, ya, bidang yang kamu lamar sekarang juga marketing, tapi tentu...beda produk."

Ia menatapku tajam, senyum tipis tapi penuh pertimbangan.

"Menurutmu kamu, kamu bisa memenuhi target di sini?”

“Bisa bu," jawabku mantap. "Saya sudah terbiasa bekerja dengan tekanan dan target. Saya malah merasa lebih hidup saat dikejar pencapaian.”

“Oh ya, data base perusahaan lama kamu masih ada, kan?” tanyanya sambil menatapku sejenak.

Aku menjawab dengan anggukan disertai dengan senyuman kecil. Tak perlu banyak kata.

“Good," ucapnya sambil mencoret sesuatu di kertas. "Data base kamu dulu berisi pembeli mobil,ya? rata-rata dari kalangan menengah ke atas. Cocok dengan target market di sini.” 

Nada suaranya terdengar lebih terbuka, dan kalimat itu seperti memberikan sebuah ruang harapan. 

Aku mencuri pandang ke kertas di hadapannya - ada beberapa centang tegas di sana. Dan entah mengapa aku berkeyakinan akan diterima di sini. Di perusahaan ini - Atlanta Hills.

Setelah proses negosisi soal gaji dan fasilitas asuransi yang akan kuterima, aku pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan. Masih ada kegugupan, tapi juga ada harapan baru yang tumbuh perlahan. 

Satu minggu kemudian, aku resmi bekerja di Atlanta Hills. 

Namun, hingga hari ini, aku belum memberitahu Ibu. Beliau hanya tahu satu hal - kontrak kerjaku di Bank sudah berakhir, dan aku telah menjadi pengangguran selama empat bulan terakhir.

“Kamu sudah dapat pekerjaan baru?”tanya Ibu, pelan.

Suara beliau seperti biasa - tenang, tapi aku tahu, dibaliknya tersimpan kekhawatiran yang sudah lama di tahan. Matanya menatapku lembut, seperti menunggu kejujuran, bukan sekedar jawaban.

“Alhamdulilah, sudah, bu,” jawabku sambil tergesa-gesa memakai sepatu onitsuka yang mulai pudar warnanya. Tempat kerjaku yang sekarang tidak menuntut berpakaian rapi. Kami dibebaskan mengenakan baju kasual, selama tetap sopan.

“Kerja di mana? Di Bank lagi...atau sales?”

Aku berhenti sejenak, lalu menjawab pelan sambil merapikan kemejaku

“Marketing,” jawabku singkat.

Ibu hanya menanggapi dengan gumaman pelan, “Oh, sales lagi.”

Nada suaranya terdengar datar, tapi aku tahu arti dibaliknya. Dulu, saat pertama kali aku bekerja di bidang marketing, ekspresi beliau tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Bagi Ibu, mungkin, pekerjaan yang "pantas" itu adalah duduk di balik meja, mengenakan kemeja rapi, di raung ber-AC seperti saat aku di bank dulu.

Entah kenapa, pekerjaan sales di matanya tak pernah terlihat cukup keren. Padahal justru aku lebih di lapangan. Tapi untuk sekarang, aku memilih diam. 

“Bekerja di mana?” 

Dan benar saja, pertanyaan ini akan meluncur dari mulut Ibu, suaranya lembut tapi penuh rasa ingin tahu.

“Aku di Atlanta Hills, perusahaan di Bogor,” jawabku cepat, sambil sudah memakai sepatu.


“Jauh juga dari Jakarta, itu sales apa, sih?” 

Aku terdiam sejenak, bingung mencari kata yang pas. Kalau Ibu benar-benar mempermasalahkan pekerjaan ini aku sudah siap. Siap untuk ngontrak atau ngekos sendiri demi membuktikan bahwa pilihanku bukan salah.

“Pemakaman....” jawabku pelan, memperhatikan ekspresi Ibu yang datar. 

“Aku...sales pemakaman elit...” aku menambahkan, mencoba menjelaskan dengan nada serius tapi penuh makna.

Ibu menatapku dengan mata membelalak “Kamu jadi sales...kuburan?”

* **

Setelah seminggu, tebakanku benar - Ibu jadi jarang menyapaku. Suaranya yang biasanya hangat kini lebih sering redup, seperti menghindar dari kenyataan yang sulit diterima.

Mungkin Ibu bingung. Saat tetangga atau saudara bertanya tentang anak laki-lakinya yang dulu kuliah di UI, yang selalu jadi juara kelas, kini bekerja sebagai marketing pemakaman.

Ibu bahkan pernah bergumam, dengan nada setengah bercanda tapi penuh getir, menyebutku "sales kuburan".

Menurutku, bisnis ini sebenarnya sedang berkembang pesat. Lahan pemakaman elit sekarang harganya sama dengan harga satu unit mobil, bahkan ada yang masuk kategori private estate dengan harga miliaran rupiah. 

Tentu ini berpengaruh dengan komisi yang bisa ku terima jika berhasil mendapat klien yang deal dengan produk seharga satu miliar rupiah. 

Tapi Ibu, saudara, bahkan tetangga dan teman - teman...mereka semua tak paham hal ini. 

Hari ini aku mempresentasikan sebuah lahan tipe semi-private dengan harga 400 juta kepada seorang pengusaha Jakarta. Usianya sekitar enam puluh tahun, dan dari awal aku sudah bisa merasakan ketertarikan yang kuat dari beliau.

Kalau deal ini berhasil, komisi yang kudapat akan kugunakan sebagai uang muka (DP) untuk ngontrak di dareah sini. 

Saat aku kembali mengantarkan klien ke kantor marketing, kami berpapasan dengan seorang wanita tua.  Wajahnya familiar, sering kulihat beliau berkunjung ke sini, tapi selalu ada aura misteri yang sulit kujelaskan setiap kali dia lewat.

Aku menghampiri pak Soleh, salah satu satpam yang berjaga hari ini. Kukatakan "salah satu" karena komplek pemakaman ini sangat luas  - membentang taman abadi yang tak berujung. 

Tak heran, tempat ini membutuhkan banyak personil keamanan. Total ada sekitar tiga puluh satpam yang berjaga secara bergiliran, memastikan setiap sudut tetap aman dan tertib.

“Pak, Ibu itu siapa ya?" tanyaku pelan pada Pak Soleh, sambil melirik pada wanita tua yang baru saja berlalu. "Aku sering lihat beliau datang ke tipe Paviliun,” 

Pak Soleh mengikuti arah pandangku.

"Iya yang pakai kendaraan umum itu," tambahku, masih setengah berpikir. "Padahal, paviliun itu kan...harganya di atas satu miliar."

Pertanyaanku menggantung di udara, di bungkus penasaran yang semakin dalam.

 “Dia berkunjung ke makam suaminya,” jawab Pak Soleh singkat.

Aku mengangguk pelan, tapi pikirannku justru semakin ramai.

Suaminya di makamkan di Paviliun - area paling mahal di kompleks ini. Harga lahannya bisa tembus milyaran rupiah, belum lagi biaya biaya kebersihan dan perawatan tahunan yang tidak kecil.

“Tapi waktu itu aku juga sempat lihat, Pak..." aku melanjutkan dengan nada ragu, "...ada anak muda seumuran aku mingkin, datang ke sana juga. Pakaian rapi, mobil mewah. Apa itu anaknya?” 

Pak soleh mengerutkan dahi, lalu menoleh padaku perlahan.

“Mereka anak-anak istrinya," jelas Pak Soleh perlahan. "Yang di sampingnya itu...makam istri mudanya.” 

Aku mengernyit. Penjelasan itu justru membuatku semakin bingung.

“Suaminya itu punya istri muda yang kaya. Sementara Ibu itu - yang sering kamu lihat-  adalah istri tuanya. Dulu mereka berpisah, Suaminya pergi tanpa kabar, menghilang begitru saja."

Aku diam menyimak tanpa menyela

"Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun...baru si Ibu tahu suaminya meninggal. Dan ternyata di makamkan di sini. Bersama istri mudanya.”

Ada jeda.

Dan dalam jeda itu, entah kenapa...dunia rasanya lebih sunyi dari biasanya.

Pak soleh menuturkan kisah itu dengan nada yang lebih banyak jedanya ketimbang suaranya. Tentang seorang istri yang sering setia berkunjung, meski alasan kunjungannya tak lagi utuh. Ia betahan pada sebuah janji yang pernah diucapkan mendiang suaminya: akan selalu mendampingi dalam suka maupun duka. 

Dulu, sang suami berangkat ke kota dengan niat kembali. Namun, kota punya cara lain. Ia jatuh cinta lagi, menikahi putri pemilik usaha, lalu lupa. Lupa ada seseorang yang setia menunggunya di kampung. Lupa bahwa janji tidak pernah benar-benar mati hanya karena pengucapnya berpaling.

Namun tidak bagi sang istri tua. Janji itu tetap terpatri dihatinya, seperti ukiran yang tak bisa terhapus waktu. Ia hanya tahu satu hal: suaminya peenah berjanji akan kembali. Akan pulang, akan duduk kembali di pangkuannya, meski dunia telah lama merenggut arah.

Dalam lirih angin yang berhembus di sekitar Paviliun, wanita tua itu duduk jongkok menatap makam suaminya. Tatapan itu bukan sekedar pada nisan, melainkan pada seseorang yang dulu menjadi pusat hidupnya. 

Namun persis di sisi makam itu berdiri nisan lain - milik istri muda sang suami. Letaknya sejajar, seperti garis takdir yang menyatukan keduanya kembali. Hanya selisih satu bulan memisahkan tanggal kematian mereka. 

Sungguh cinta yang abadi sampai mati, meski jalannya berliku, meski kesetiaan diuji oleh lupa dan perselingkuhan.

Mungkin begitulah rahasia cinta: Ia bisa patah di dunia, tapi tetap menemukan cara bertemu lagi di tanah.

“Aku disni, Paijo..." suara wanita tua itu pecah di antara desir angin.

"Tapi entah mengapa nama kamu di makam ini berganti jadi Haryono."

Ia tersenyum getir. "Aku bukanlah perempuan setia seperti orang-orang kira. Menunggumu, mungkin Itu adalah hal paling bodoh sekaligus paling benar yang pernah kulakukan."

Lalu Ia menarik napas panjang, seolah ingin menghirup kembali semua tahun yang sudah terbuang. 

"Aku akan jujur kepadamu kalau..."

“Aku yang membuat istri yang kini berbaring di sampingmu mati," suaranya datar, tajam tanpa perlu berteriak.

"Aku juga...akan menyingkirkan dua anakmu dan satu cucumu yang masih bayi."

Kata-kata itu keluar seperti batu yang di lempar ke kolam; riaknya tak pernah kembali seperti semula.

"Aku diterima bekerja di rumah anakmu. Mereka menyambutku seperti kerabat—memberiku nama, tempat, kepercayaan. Mendengar itu, aku tertawa kecil. Dungu. Tolol. Bukankah aneh, Paijo, kalau warisan yang kau titipkan pada darahmu hanyalah ketulusan yang mudah dimanipulasi? Bukankah luka dan lupa juga bergenerasi, seperti nama yang diteruskan tanpa pertanyaan?”

Wanita tua itu berdiri, menutup halaman pemakaman dengan langkah yang tenang, hampir seperti orang yang selesai membaca surat lama. Di bibirnya terukir senyum yang tak ramah dan tak menghibur.
Ia menatapku sebentar di depan kantor marketing—seolah menimbang: apakah pengakuan lebih menenangkan daripada penebusan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suwung bab 5

5 Melukat Malam pertamaku di Bali tepatnya di Ubud terasa aneh - tenang tapi terlalu tenang. Aku terbiasa dengan bisingnya kos di Jakarta, t...